Menulis

Cara Melaporkan Penyalahgunaan Profesi Wartawan

Posted by Romel Tea ● Follow @romeltea ● Like Romeltea Media on Facebook

Cara Melaporkan Penyalahgunaan Profesi Wartawan
Wartawan profesional akan menaati kode etik, tidak menyalahgunakan profesi, tidak menerima suap, apalagi memeras dan/atau memelas. 

ADA mitos, wartawan adalah “sosok menakutkan”, khususnya bagi mereka yang bermasalah. Akibatnya, banyak "oknum" wartawan atau wartawan abal-abal "bergentayangan" mencari mangsa yang "Ujung-Ujungnya Duit".


Wartawan profesional selalu menggunakan cara-cara etis dalam mencari informasi dan menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik. "Minta duit" merupakan pelanggaran terhadap kode etik dan salah satu ciri wartawan tidak profesional.

Jika ada yang "oknum" yang menyalahgunakan profesi wartawan, masyarakat bisa melaporkan atau mengadukannya ke Dewan Pers.

Dewan Pers sudah membuat Prosedur Pengaduan di halaman situs webnya. (Download Prosedur Pengaduan ke Dewan Pers).

Dalam Pasal 2 tentang Hal yang Bisa Diadukan disebutkan, Dewan Pers menerima pengaduan menyangkut:

a. Karya jurnalistik, perilaku, dan atau tindakan wartawan yang terkait dengan kegiatan jurnalistik;
b. Kekerasan terhadap wartawan dan atau perusahaan pers;
c. Iklan sebagaimana diatur di dalam Pasal 13 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan peraturan perundangan yang berlaku.

Prinsip Kerja Kewartawanan: Pedoman Dewan Pers

1. Wartawan dalam menjalankan pekerjaan jurnalistiknya selalu berdasar pada prinsip-prinsip etika. Wartawan Indonesia telah memiliki Kode Etik Wartawan Indonesia (KEWI) yang menjadi acuan bagi seluruh wartawan di Indonesia.

2. Wartawan tidak boleh menggunakan cara-cara pemaksaan dan intimidasi, serta tidak meminta imbalan dalam mencari informasi.

3. Dewan Pers mengimbau agar komunitas wartawan dan pers bahu-membahu bersama masyarakat untuk memerangi praktek penyalahgunaan profesi wartawan, dengan malaporkan aktivitas-aktivitas tidak profesional –yang mengatasnamakan sebagai wartawan– kepada kepolisian.

4. Kepada anggota masyarakat, perusahaan swasta, dan instansi pemerintah diharapkan agar cermat dalam mengidentifikasi wartawan/media serta tidak segan-segan menanyakan identitas wartawan dan mengecek kebenaran serta status media tempatnya bekerja. Wartawan profesional selalu menggunakan cara-cara etis dalam mencari informasi.

5. Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu memberikan imbalan (uang amplop) kepada wartawan yang mewawancarai atau meliput.

Kode Etik Wartawan Indoensia (KEWI) dengan jelas menyatakan, wartawan Indonesia selalu menjaga kehormatan profesi dengan tidak menerima imbalan dalam bentuk apa pun dari sumber berita yang berkaitan dengan tugas-tugas kewartawanannya dan tidak menyalahgunakan profesi untuk kepentingan pribadi atau kelompok.

Menurut Dewan Pers, dengan tidak memberikan "uang amplop", berarti masyarakat turut membantu upaya penegakkan etika wartawan, serta berperan dalam memberantas praktik penyalahgunaan profesi wartawan.

7 Ciri Media dan Wartawan Abal-Abal

Masyarakat harus mampu membedakan antara wartawan profesional dan wartawan abal-abal (palsu).

Dalam sebuah seminar media literasi bertajuk “Membedakan Media Profesional dan Media Abal-abal” di Mamuju, 5 Maret 2015,  Ketua Komisi Hukum Dewan Pers, Yosep Adi Prasetyo, membeberkan, ciri-ciri media dan wartawan abal-abal.

Seperti diberitakan Fajar, dalam klasifikasi Yosep, setidaknya ada tujuh ciri media abal-abal:
  1. Tidak berbadan hukum
  2. Alamat redaksi tidak jelas
  3. Tidak mencantumkan nama penanggungjawab dalam boks
  4. Terbit temporer (kadang terbit, kadang tidak.
  5. Isi media melanggar kode etik
  6. Bahasa yang digunakan tidak memenuhi standar baku
  7. Nama media terkesan menakutkan.
Ciri wartawan abal-abal:
  1. Berpenampilan sok jago dan tidak tahu etika
  2. Mengaku anggota organisasi wartawan tapi tidak jelas, alias di luar PWI, AJI dan IJTI
  3. Pakai atribut aneh 
  4. Pertanyaan yang diajukan terkesan tendensius.
  5. Tidak bertatakrama jurnalis
  6. meremehkan bahkan kadang mengancam dan memeras narasumber
  7. Tidak bisa memperlihatkan kartu kompetensi.
Banyak wartawan mengeluhkan gaji atau honor yang di bawah strandar. Namun, di sisi lain, rupanya banyak juga yang menyalahgunakan profesi terhormat ini sebagai "kedok" untuk memeras dan/atau memelas. Wasalam. (http://www.romelteamedia.com).*

Author:

I am a Blogger, Media Practisioner, and Practical Communication Trainer. I share my own knowledges, experiences, and skills about practical communication - writing, speaking, blogging - and my hobbies and concerns. Visit my official website Romeltea.

Previous
« Prev Post
9 Komentar untuk "Cara Melaporkan Penyalahgunaan Profesi Wartawan"
boerxen nia
delete

Mohon informasi, apakah ada Surat Kabar Umum RAKYAT INDONESIA di Provinsi Jawa Barat yg pemimpin redaksinya bernama A. Fauzi. Saya perlu indentitas nama surat kabar dan nama pemimpin redaksi tsb krn akhir2 ini sering bergentayangan ke instansi2 pemerintah dgn kedok mencari berita ttg pengelolaan barang dan jasa atas permintaan KPK.

Kalau mereka wartawan beneran, pastinya punya ID CARD/PRESS CARD, di sana tertera alamat redaksi dan pemimpin redaksinya sebagai penanggung jawab, silakan cek, minta tunjukkan ID mereka, jka tidak bisa menunjukkan ID-nya, abaikan, jika memeras, laporkan ke polisi! Jika mengemis (pengermis berkedok wartawan), kasih aja ongkos pulang.....

Biasanya banyak di kota2 besar yang begitu ya bang.

Justru banyak terjadi di daerah :)

Banyak terjadi di daerah kecil bang apa lagi di desa.
saya minta bantuan bang kemana harus saya laporkan. saya tidak senang berita yang dimuat mereka karna mencemarkan nama baik kaka saya bang. di dalam koran tersebut tidak tercantum dari siapa sumbernya. terima kasih bang sebelumnya

1. Cara melaporkan ada di alinea 5 di atas
2. Kalo sdh pencemaran nama baik, gak usah ragu, laporkan aja ke polisi, disertai bukti fitnahnya

Hari ini saya di datangi di kantor tampa meperkenalkan diri dan tidak memperlihatkan ID Card dengan pakaian kost oblong dan sandal jepit...langsung mau memotret saya dan saya melarang dan langsung marah2 dan mengajak saya berkelahi tapi saya ladeni,akhirnya dia memanggil rekan2nya...pertanyaan saya apakah wartawan bisa langsung masuk ke sebuah kantor bank dan langsung main potret dan mau nantang duel saya bukti CCTV.

1. Wartawan boleh memotret objek yang terbuka untuk umum dan tidak ada tanda larangan memotret.
2. Namun, wartawan WAJIB memperlihatkan ID Card jika diminta.
3. Jika tidak menunjukkan ID Card, dipastikan wartawan abal-abal dan usir saja, apalagi bersikap seperti demikian, laporkan saja ke polisi dengan delik aduan "perbuatan tidak menyenangkan"

Saya mau tanya apakah pers dr pt media jombang pos terdaftar

You comment, I'll visit back your blog. If you have one. Komentar SPAM dan LINK AKTIF tidak akan muncul.