Menulis

Cara Berpikir Wartawan: Skeptis

Posted by Romel Tea ● Follow @romeltea ● Like Romeltea Media on Facebook

Cara Berpikir Wartawan
Wartawan bersikap skeptis (ragu/sangsi) alias tidak mudah percaya atas yang mereka dengar dan lihat. Wartawan tidak otomatis percaya yang dikatakan narasumber berita.

Karenanya, wartawan melakukan verifikasi, klarifikasi, atau cek dan cek ulang (check and recheck) sebelum menulis berita.

CARA berpikir wartawan adalah pola atau metode berpikir wartawan ketika melakukan tugas jurnalistik --menyeleksi dan menulis berita. Cara berpikir wartawan sering menjadi acuan dalam menulis di blog, seperti anjuran "Think like a journalist!" (berpikirlah seperti seorang wartawan), dalam Tips for Writing for Online Readers.

Cara berpikir wartawan juga sering menjadi pedoman dalam menulis siaran pers (press release) di kalangan Praktisi Humas (PR, Public Relations) agar siaran persnya dipublikasikan.

Empat D

Menurut Michael Bugeja dari School of Journalism and Communication at Iowa State University, USA, cara berpikir wartawan dalam menyeleksi dan menulis berita terangkum dalam 4D:
  1. Doubt
  2. Detect
  3. Doscern
  4. Demand

1. Doubt — Ragu, Tidak Otomatis Percaya.
Wartawan bersikap skeptis (ragu/sangsi) alias tidak mudah percaya atas yang mereka dengar dan lihat. Wartawan tidak otomatis percaya yang dikatakan narasumber berita. Karenanya, wartawan melakukan verifikasi, klarifikasi, atau cek dan cek ulang (check and recheck) sebelum menulis berita.

Istilah lain yang menggambarkan cara berpikir wartawan seperti ini adalah "Doktrin Kejujuran" (Fairness Doctrine). Pengertiannya sama, yakni tidak mudah mempercayai yang dikemukakan narasumber, apalagi jika pernyataannya "kurang/tidak masuk akal".

Reporter yang kurang skeptis akan mudah kena "hoax" (berita bohong) atau dimanipulasi. Misalnya, ada pengurus parpol yang mengirimkan siaran pers. Isinya: "pembukaan cabang partai di luar negeri yang dihadiri ribuan orang". Siaran pers itu lantas dimuat "apa adanya", tanpa cek dan ricek, sehingga berita menjadi tidak akurat. Ini contoh nyata akibat redaksi media yang "kurang skeptis".

2. Detect — Menemukan "Gambaran Besar".
Wartawan tanpa henti mengejar kebenaran (the truth) untuk menemukan "gambaran besar" (big picture) sebuah peristiwa atau masalah.

Para wartawan memiliki "penciuman berita" (nose for news). Mereka memburu cerita dan memastikannya benar terjadi (faktual).

Reporter bekerja layaknya detektif yang mengejar tersangka, lalu membawanya ke pengadilan --pengadilan opini publik.

3. Discern — Berpikir kritis untuk menemukan keseimbangan.
Wartawan mampu berpikir tajam, kritis, untuk menyajikan berita berimbang (balance) atau seobjektif mungkin. Di sini wartawan melakukan covering both side, meliput para pihak alias tidak sepihak.

4. Demand — Menjunjung dan melindungi arus informasi yang bebas.
Wartawan dan publik sama-sama menginginkan kebebasan informasi (freedom of information). Wartawan merasa bebas menyampaikan informasi penting bagi publik sebagaimana publik juga menginginkannya.

Dalam istilah lain, wartawan menentukan berita berdasarkan "nilai berita" (news values), termasuk "penting", yakni penting bagi publik dan menyangkut orang penting seperti pajabat negara. Wasalam.*

Source

Author:

I am a Blogger, Media Practisioner, and Practical Communication Trainer. I share my own knowledges, experiences, and skills about practical communication - writing, speaking, blogging - and my hobbies and concerns. Visit my official website Romeltea.

Previous
« Prev Post
0 Komentar untuk "Cara Berpikir Wartawan: Skeptis"

You comment, I'll visit back your blog. If you have one. Komentar SPAM dan LINK AKTIF tidak akan muncul.