Featured Image Post

Hoax Berkembang Akibat Krisis Kepercayaan terhadap Media Mainstream

HOAX atau berita palsu/informasi bohong berkembang akibat masyarakat kehilangan kepercayaan atas netralitas pers dan isi media mainstrea...

Romeltea Media

Blog Santri: Warisan Budaya Menulis Ulama, Dakwah, dan Blogpreneur

Blog Santri: Warisan Budaya Menulis Ulama, Dakwah, dan Blogpreneur
Makna blogging bagi santri: mewarisi budaya menulis ulama, dakwah bil qolam, dan... blogpreneur!

SAYA sudah menulis dua posting tentang blog dan santri, yaitu Gerakan Santri Menulis dan Blog sebagai Media Dakwah.

Tulisan pertama mengulas Gerakan Santri Menulis yang digagas sebuah media. Tulisan kedua berupa "draft" makalah saya saat diundang sebuah pesantren modern di Kuningan untuk bicara soal blogging kaitannya dengan dakwah.

Posting ini "merangkum" kedua tulisan tersebut dengan judul baru "Blog dan Santri". Intinya sih, para santri sebaiknya diberi kesempatan dan didorong ngeblog (blogging) untuk ekspresi diri secara Islami dan dakwah melalui tulisan (da'wah bil qolam).

Belum lama ini ada keluhan tentang "ustadz media sosial", yaitu fenomena orang bicara agama di media sosial atau di internet, padahal ilmu agamanya minim.

Nah, jika santri yang bicara atau menulis agama, memang sudah bidangnya. Para santri 'kan memang sehari-harinya belajar dan mendalami ilmu agama (Islam) dengan bimbingan para ulama, kyai, atau ustadz di pesantrennya.

Lagi pula, jika santri yang bicara agama, maka akan dibimbing dan/atau dikoreksi ulam ustadz atau kyaianya, jika ada yang keliru atau kurang tepat.

Gerakan Santri Menulis

Saya baru tahu ada Gerakan Santri Menulis dua tahun lalu, saat membaca berita Gerakan Santri Menulis Datang, Para Santri Senang.

Muncul pertanyaan, di mana kita bisa membaca tulisan para santri itu? Belum ada jawaban.

Saya yakin, tulisan mereka "bergizi". Secara, sehari-hari 'kan para santri itu "menyantap" ilmu agama (Islam) dari kitab-kitab kuning dan diajarkan langsung oleh para ahli (ulama/kyai).

Kita berharap, para santri itu "keep writing" menyebarkan ilmu agama, menjadi jurnalis Muslim yang memerankan muaddib (pendidik Islami), musaddid (pelurus info Islam), muwahid (pemersatu umat), mujaddid (pembaharu atau "corong" pembaharuan pemahaman Islam), dan mujahid (pejuang Islam di medan perang informasi/media).

Saya berharap pemateri Gerakan Santri Menulis tidak hanya membekali para santri dengan teknik menulis, tapi juga mengajarkan BLOGGING sebagai sarana terbaik dan termudah saat ini untuk mengasah keterampilan menulis.

Para santri tidak hanya mengandalkan media-media mainstream ataupun media internal pesantren untuk menyebarluaskan karya tulisnya, tapi juga publikasi tulisannya di blog pribadi mereka dan di blog atau situs web pesantrennya.

Bayangkan, betapa "ramai" ilmu-ilmu Islam dari dunia pesantren "berseliweran" di jagat maya (internet) dan/atau blogosphere (personal websites and blogs collectively).

Santri, Blog, dan Dakwah

Menulis adalah warisan para ulama salaf yang terlupakan. Bukankah kitab-kitab kuning yang dikaji para santri di pesantren itu ada karena para ulama dulu suka menulis?

Bukankah Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Arba'in Nawawi, Safinatun Naja', Jurumiyah, Riyadhush Shalihin, Fiqhud Da'wah, Fiqhus Sunnah, Alfiyah, Ta'limul Muta'allim, dan banyak lagi kitab itu merupakah produk menulis para ulama dulu?

Gerakan Santri Menulis, saya harap, meluas ke semua kalangan santri, guna meneruskan atau mewarisi tradisi menulis para ulama. Menulis itu akan membuat ilmu jadi "abadi", demikian juga penulisnya.

Menulis itu mengingat ilmu. Nabi Muhammad Saw juga memerintahkan kaum Muslim "qayyidul 'ilma bil kitabah" (ikatlah ilmu dengan tulisan). Banyak sekali manfaat menulis: sedekah ilmu, amal jariyah, dakwah, menebar inspirasi, motivasi, dll.

Saat ini, di era internet, sarana terbaik mengasah keterampilan menulis adalah blogging. Sangat sering disebutkan, salah satu manfaat blogging adalah "be better writer" (menjadi penulis yang lebih baik).

Untuk santri, blog sekaligus menjadi sarana dakwah. Konten blog Islam atau blog dakwah santri, lulusan pesantren, atau ustadz, tentu akan lebih kredibel atau dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan. Secara, mereka memang ahlinya (ahli ilmu agama).

Internet menjadi sumber informasi utama saat ini. Orang ingin tahu apa saja, mencari apa saja, lewat internet atau Google. Sebuah survei menunjukkan, kebanyakan orang membuka internet untuk mendapatkan informasi, bahkan sebelum belanja ke pasar atau mall.

Sebuah hasil survei menunjukkan mayoritas (94%) orang mengandalkan internet sebagai sumber informasi. TV dan media sosial ada di posisi dua (82%) dan tiga (81%).

Citra Islam yang "babak-belur" di internet akan menjadi citra Islam di masyarakat dunia. Inilah tantangan para santri, ustadz, dan/atau ulama untuk menunjukkan Islam sebenarnya di internet --dengan blogging.

Blogpreneur

Selain untuk berlatih menulis sekaligus mewarisi budaya menulis para ulama dan dakwah, blogging bagi santri juga bisa menjadi sarana wirausaha, dalam hal ini wirausahwan online atau bisnis online, yakni dengan menjadi BLOGPRENEUR.

Saat ini, blogging is business. Ngeblog bisa menghasilkan uang. Banyak sekali tips menghasilkan uang dari blog, terutama dengan program Google AdSense, toko online, dan bisnis afiliasi (affiliate marketing). Blog juga bisa "disulap" menjadi toko online, juga promosi jasa/produk.

Tahun ini saya terlibat dalam sebuah program gerakan santri menulis yang diselenggarakan Mandiri Amal Insani (MAI). Materi yang diamanahkan kepada saya adalah menulis jurnalistik dan blogging. Insya Allah.Wasalam. (www.romelteamedia.com).*

Romeltea Media

Semua Orang Bisa Jadi Wartawan, Medianya Blogging

Semua Orang Bisa Jadi Wartawan, Medianya Blogging
Semua orang bisa menjadi jurnalis. Cara membuat situs berita berbasis blog pun sangat mudah.

 ERA internet dan media sosial membuat semua orang bisa menjadi wartawan. Everybody can be journalist!

Bukan wartawan dalam pengertian "wartawan profesional" sebagaimana definisi dalam UU Pers, tapi wartawan dalam pengertian "teknis": produksi informasi, menulis berita, dan menyebarkannya.

Era internet juga menjadikan semua orang menjadi "publisher", dalam pengertian tadi --produksi informasi, menulis berita, dan menyebarkannya. "Anyone can be a publisher," tulis Herarld.

Kini, di media internet, dengan mudah orang menyebarkan informasi apa saja. Internet pun bersikap "demokratis" --memperlakukan semua informasi sama-sama muncul, tampil, tak peduli siapa dan bagaimana kualitas orang yang menulisnya.

Dalam Manifesto Internet juga disebutkan, internet adalah kemenangan informasi. Saat ini setiap orang, melalui internet, dapat menginformasikan diri mereka lebih baik dari sebelumnya.

Kebebasan Internet tidak dapat diganggu-gugat. Memblokir akses ke Internet dinilai “membahayakan aliran bebas informasi” dan merusak “hak dasar tentang menentukan informasi sendiri”.

Tidak hanya di media sosial, semua orang juga bisa memerankan diri sebagai wartawan layaknya jurnalis profesional yang bekerja di perusahaan media atau lembaga/perusahaan pers.

Medianya adalah blog, situs web atau halaman pribadi (personal web page) yang bisa bersaing di mesin telusur (search engine) dengan situs-situs besar dengan Teknik Pengoptimalan Mesin Telusur (SEO).

"I think of us as journalists; the medium we work in is blogging," kata Joshua Micah Marshall, wartawan dan blogger Amerika, dikutip Income Diarry.

Blog platform Blogger atau CMS WordPress kini dengan mudah bisa "disulap" atau menjelma menjadi media online dalam arti situs berita (news site).

Jika dikelola oleh blogger yang piawai menulis dan menguasai teknik jurnalistik, maka situs berita berbasis blogger tersebut bisa bersaing dengan media-media komersial di internet.

Cara Membuat Situs Berita Berbasis Blogger

Cara membuat situs berita berbasis blog sangat mudah:
1. Buat Blog
2. Gunakan Template Magazine News Style
3. Lakukan Custom Domain agar terkesan profesional.
4. Isi blog dengan berita aktual layaknya situs berita.

Situs-situs berita berbasis blog itulah yang belakangan "meresahkan" Dewan Pers dan media-media arus utama (mainstream).

Jelas, kini Semua Orang Bisa Jadi Wartawan. Medianya Blogging.

Ada sudah ngeblog? Jika belum, Anda hanya menjadi "objek" yang diombang-ambing banjir informasi internet. Ayo, jadi subjek dengan blogging! Wasalam. (www.romelteamedia.com).*

Romeltea Media

Tips Menulis Berita: Panduan untuk Pemula

Tips Menulis Berita: Panduan untuk Pemula
SAYA tidak tahu apakah tips menulis berita di bawah ini dipraktikkan atau tidak oleh wartawan kita, terutama wartawan media online.

Pasalnya, berita di media online seperti ditulis "seenaknya" tanpa memperhatikan kaidah baku jurnalistik.

Kayanya, wartawan media online hanya fokus pada indeks mesin pencari dan jumlah kunjungan (pageviews).

Membaca berita-berita media online, terutama di bagian judul, saya punya kesan ilmu jurnalistik sudah tidak lagi diindahkan. Judul-judul umpan klik (clickbait) kian merajalela di situs-situs berita.

Banyak jurnalis media online membuat judul seperti membuat status di media sosial. Memang itulah pengaruh media sosial terhadap jurnalistik.

Saya juga jadi bertanya-tanya, apakah jurusan jurnalistik masih diperlukan saat ini, saat semua orang bisa menjadi wartawan dengan medium publikasi media sosial atau blog.

Saya posting tips menulis berita berikut ini sekadar dokumentasi sekaligus berbagi dan "berupaya melestarikan ilmu jurnalistik", khususnya dalam hal cara menulis berita.

Tips menulis berita ini sebenarnya ada 100. Saya "ringkas" sesuai dengan konteks jurnalistik Indonesia menjadi 47 tips menulis berita.

Jadi, tidak semua tips saya terjemahkan. Tips ini meliputi cara menulis teras berita (lead), cara menulis isi berita (body), cara editing, dan cara penyusunan kalimat.

Tips menulis berita di bawah ini saya sadur dari "Hot 100' News Writing Tips" yang dikompilasi oleh Sheryl Swingley dari Ball State University, Indiana, Amerika Serikat.

Cara Menulis Berita: Teras (Lead)

1. Teras berita --yaitu alinea pertama sebuah berita-- hendaknya ringkas. Maksimal 35 kata.
2. Teras berita hendaknya ditulis dalam satu atau dua kalimat saja.
3. Hindari memulai teras berita dengan unsur berita "when" (kapan) atau "where" (di mana), kecuali keduanya merupakan unsur terpenting. Kebanyakan teras berita dimulai dengan unsur "who" (siapa) dan "what" (apa).

Poin 3 ini sering dilanggar, khususnya di situs-situs atau media internal instansi/perusahaan. Kita sering menemukan berita dimulai dengan: Pada hari Senin tanggal 6 Maret 2017 telah diadakan sosialisasi program baru di Aula Kantor Kanwil Anu.

Jika merujuk pada poin 3 di atas, penulisan yang benar: Kanwil Anu mengadakan sosialisasi program baru di Aula Kantor, Senin (6/3/2017).

Jadi, awali kalimat di alinea pertama berita dengan unsur WHO. Rumusnya: SIAPA melakukan APA, DI MANA, KAPAN, KENAPA, BAGAIMANA. 

Baca Juga: Cara Mudah Menulis Berita 

4. Hindari mengawali teras berita dengan “there” (ada) atau “this” (ini).

5. Dalam teras berita tentang peristiwa yang akan terjadi, unsur waktu, hari (tanggal), dan tempat biasanya ditempatkan di akhir paragraf.

6.  Dalam teras berita tentang peristiwa yang sudah lalu, hari (tanggal) kejadian biasanya muncul sebelum atau sesudah kata kerja (verb). Kadang-kadang hari (tanggal) ditulis di akhir awal kalimat pertama atau paragraf, jika teras beritanya hanya satu kalimat.

Poin 5 dan 6 di atas sesuai dengan kaidah tata bahasa Indonesia dalam penulisan kalimat: SPOK. Subjek, Predikat, Objek, Keterangan (Waktu & Tempat). 

7. Gunakan teras kutipan dan pertanyaan secara hemat (kadang-kadang saja).
8. Lima poin pertama di atas merupakan cara terbaik dalam membuat teras berita.

Cara Menulis Berita: Isi (Body)

9.  Tulis isi berita (detail setelah teras) dalam paragraf pendek. Maksimum 60 kata atau kurang dari 10 baris.
10. Paragraf  yang terdiri dari satu sampai tiga kalimat lebih disukai pembaca.
11. Tiap paragraf hanya berisi satu ide.
12. Ingat, paragraf pendek mendorong pembaca untuk melanjutkan membaca.

Poin 9-12 ini kian penting dalam penulisan naskah berita di media online agar ramah mudah dipindai (scannable) dan ramah pengguna/pembaca (user friendly).

Silakan Baca: Cara Menulis di Website/Media Online

Cara Menulis Berita: Penyuntingan (Editing)

13. Hilangkan kata "bahwa" bila memungkinkan.

Penggunaan atau penilisan kata bahwa termasuk melanggar kaidah bahasa jurnalistik. Kata "bahwa" (that) tidak diperlukan agar hemat kata (ringkas). 

Misalnya, Bupati mengatakan bahwa banjir disebabkan hujan. Ubah menjadi: Bupati mengatakan banjir disebabkan hujan.

14. Untuk berita “past event” (peristiwa yang sudah terjadi), tulis “Jumat”, BUKAN “Jumat lalu”. Untuk “future event” (peristiwa yang akan terjadi), tulis “Jumat”, BUKAN “Jumat depan” atau “Jumat mendatang”.

Poin 14 ini sering dilanggar wartawan. Sangat sering kita menemukan, misalnya, digelar 5 Maret lalu atau diselenggarakan 12 Maret mendatang. 

15. Hilangkan kata-kata seperti "ketika ditanya" dan "menyimpulkan". Ini transisi yang lemah. Langsung laporkan/tuliskan saja yang dikatakan narasumber.
16. Selalu periksa (double-check) ejaan nama. Jangan salah menulis nama!
17. Periksa angka.
18. Pastikan kata "hanya" ditempatkan dengan benar dalam sebuah kalimat. Penulisan kata "hanya" bisa mengubah makna kalimat.

Satu kata dalam berita bisa mengubah makna sekaligus melangar kode etik jurnalistik poin "tidak mencampurkan opini dan fakta". Kata "hanya" termasuk opini.

19. Tulis. Tulis ulang. Revisi. Tulisa ulang. Revisi. Edit. Revisi. Edit. Edit. Jangan langsung publikasi atau kirim ke editor setelah selesai menulis berita. Versi pertama naskah berita TIDAK cukup langsung naik cetak (publikasi).

Ada ungkapan: tidak ada tulisan hebat, hanya penulisan ulang yang hebat (there is no great writing, only great rewriting).

20. Baca naskah berita dengan keras untuk “menangkap” konstruksi kalimat yang tidak logis.

Cara Menulis Berita: Grammar

21. Gunakan kata ganti “mereka” untuk merujuk pada sebuah tim atau grup.
22. Pastikan kata kerja atau frasa lainnya "paralel" atau sama dalam struktur ketika muncul dalam cerita atau daftar.

Contoh: Dia suka berkebun, memancing, dan berburu. Api menewaskan sedikitnya 12 orang, melukai 60 lainnya, dan memaksa puluhan warga melompat dari jendela.

23. Gunakan kata ganti orang ketiga (ia, dia, mereka). Sangat langka menggunakan kata ganti orang pertama (saya, Anda). Jangan pula menulis kata “beliau”, tulis “ia”.

Kata “beliau” biasanya hanya digunakan untik kata ganti para nabi, khususnya Nabi Muhammad Saw .

24. Gunakan “kata berpasangan” dengan baik: “baik… maupun…”, “jika…. maka…”.

Contoh: “Baik pihak perusahaan maupun karyawan datang” (sebaiknya sih, lebih hemat begini: “Pihak perusahaan dan karyawan datang”.

25. Gunakan kalimat aktif, bukan kalimat pasif. “Pemerintah menaikkan harga BBM”, bukan “Harga BBM dinaikkan pemerintah”. “Majelis Taklim mengadakan pengajian”, bukan “Pengajian diadakan Majelis Taklim”.

Cara Menulis Berita: Lain-Lain

26. Jika ragu-ragu, tinggalkan (When in doubt, leave it out). Informasi yang meragukan, apalagi tidak dapat dikonfirmasi, tinggalkan --jangan diberitakan.

27. Hindari kata-kata vulgar, cabul, kasar, berbau SARA (menyinggung suku, agama, ras, antargolongan), dan stereotip.

28. Hindari identifikasi ras, kecuali bila penting untuk komunikasi.
29. Kebanyakan kata keterangan (adverb) tidak diperlukan.
30. Kebanyakan kata sifat (adjectives) tidak diperlukan.

Cara Menulis Berita: Tanda Baca

31. Gunakan koma setelah “menurut…”. Misalnya, “Menurutnya, korupsi terjadi karena keserakahan”.
32. Tidak ada koma di antara waktu, tanggal, dan tempat. Kecelakaan itu terjadi pukul 04:32 WIB Senin (21/6) di Tel Aviv.

33. Bila ragu-ragu tentang penggunaan koma, tinggalkan saja!

Cara Menulis Berita: Kutipan dan Atribusi

Kutipan berfungsi sebagai penguat, penegas, atau fakta. Dalam berita radio dikenal dengan istilah soundbait. Di berita televisi disebut clip.

34. Gunakan atribusi hanya sekali per paragraf.

35. Atribusi diperlukan dalam berita opini –keterangan pemerintah, pendapat ahli, atau ucapan narasumber. Atribusi juga diperlukan dalam kutipan langsung dan kutipan tidak langsung.

36. "Kata" adalah kata terbaik untuk atribusi. Kata lain dapat digunakan, tetapi harus secara akurat, mewakili bagaimana sesuatu dikatakan.

“Partai korup harus dihukum,” kata pengamat politik. “Tapi apakah rakyat suka menghukum?” imbuhnya.

Di akhir kutipan langsung, kata-kata yang biasa digunakan a.l. katanya, ucapnya, ujarnya, tandasnya, tambahnya, imbuhnya, pungkasnya.
 

Cara Menulis Berita: Struktur Kalimat

37. Hindari menggunakan kata yang sama dua kali dalam kalimat.
38. Jumlah optimum kata yang digunakan dalam sebuah kalimat adalah 14 sampai 16 kata. Rata-rata pembaca tidak bisa memahami kalimat dengan lebih dari 40 kata.

39. Ubah satu kalimat panjang menjadi dua atau tiga kalimat yang lebih pendek. Prinsipnya, lebih baik banyak kalimat tapi pendek-pendek daripada satu kalimat panjang.

40. Jika kalimat panjang harus digunakan, tempatkan kalimat pendek sebelum dan sesudahnya.
41. Jangan memulai atau mengakhiri kalimat dengan kata "namun". Kata “namun” ditempatkan “dalam” sebuah kalimat –karena ia “kata sambung”.

Tips Menulis Berita: Ejaan

42. Gunakan "Periksa Ejaan" ("Spell Check") di komputer.
43. Periksa ejaan yang benar di Kamus Bahasa.

Baca: Daftar Kata Baku dan Tidak Baku Bahasa Indonesia
 

Cara Menulis Berita: Kosakata

44. Gunakan kata-kata sederhana --umum dan mudah dipahami. Jangan pernah memaksa pembaca buka kamus.

45. Hindari jargon atau istilah teknis (ilmiah) kecuali 95 persen atau lebih pembaca akan memahaminya. Jika jargon teknis digunakan dan tidak akan dipahami oleh mayoritas pembaca, pastikan jelaskan setiap istilah yang digunakan.

46. Jangan pernah katakan "kemarin" atau "besok" tanpa disertai tanggal agar  tidak membingungkan pembaca, kecuali untuk berita radio dan televisi.

47. Kadang-kadang informasi tidak dapat diverifikasi. Jika ada keraguan tentang nama seseorang, tulis "polisi mengidentifikasi orang itu sebagai John Smith" atau “dia menyebutkan namanya John Smith".

Demikian ringkasan Tips Menulis Berita sebagai Panduan untuk Pemula.

Wartawan profesional dipastikan sudah memahami dan mengamalkan tips menulis berita di atas. Jika tidak, maka mereka masih menjadi wartawan amatiran :) Wasalam. (www.romelteamedia.com).*

Romeltea Media

Media Handling: Pengertian, Ruang Lingkup, dan Tips

Media Handling: Pengertian, Ruang Lingkup, dan Tips
Media Handling: Pengertian dan Ruang Lingkup. Bagian dari Konsep Hubungan Media Humas (PR).

Media Handling adalah bagian dari keterampilan Praktisi Humas atau Public Relations (PR Skills) dalam menangani atau mengatasi media. Konsep awalnya adalah bagaimana menghadapi atau melakukan wawancara dengan wartawan (media).

Media Handling atau Handling the Media termasuk cara meng-handle (menangani) pertanyaan wartawan atau mengadakan konferensi pers (press conference).

Handling Media juga bagian dari dari upaya membina hubungan baik dengan pihak media. Karenanya, Media Handling termasuk dalam konsep Media Relations/Press Relations (hubungan media/pers) dalam "teori" kehumasan (Public Relations/PR).

Media Handling dalam konteks wawancara dan konferensi pers memerlukan keterampilan public speaking. Itu sebabnya pelatihan media handling biasanya ditambahkan materi public speaking.

Memahami dunia media, pengertian media, jenis-jenis media, cara kerja media, bahkan agenda setting dan framing, juga diperlukan guna menghandle media dengan "baik dan benar".

Dalam konteks writing, handling media juga termasuk menulis press release (rilis, siaran pers), menulis konten website, dan posting di media sosial.

Karenanya, kini konsep media handing harus diperluas menjadi tidak sekadar menangani wawancara atau promosi & klarifikasi di media, tapi juga mengeloma media sendiri (media internal) termasuk media sosial.

Media Handling Skills

Secara umum, keterampilan yang dibutuhkan dalam media handling adalah keterampilan berbicara (speaking skills) dan menulis (writing skills), selain pemahaman dunia media dan kewartawanan (jurnalistik).

Menulis bahkan merupakan keterampilan utama staf humas atau praktisi PR. Di era internet atau media online saat ini, keterampilan menulis praktisi humas harus ditambah dengan wawasan dan keterampilan media internet. (Baca: Skills Humas Online)

Salah satu buku rujukan media handling adalah When the Headline is YOU: An Insider’s Guide to Handling Media (Wiley 2010) karya Jeff Ansell, jurnalis dan konsultan PR, antara lain membahas cara media bekerja dan berpikir.

Ansell menjelaskan --dalam konteks media di Amerika-- bagaimana seorang juru bicara (spokesperson) harus dapat memahami soal angle, deadline, hingga agenda setting media yang mempengaruhi suatu pemberitaaan.

Tips Handling Media

Berikut ini ringkasan beberapa teknik atau tips media handling dari berbagai sumber.

PR Skills: 5 Aturan untuk Penanganan Media 


1. Tetap Tenang, Profesional & Faktual

Berbicara dengan wartawan harus seperti berurusan dengan polisi. Tetap ringan, tapi jangan mencoba untuk menjadi lucu. Bercanda dengan reporter tidak selalu ide yang baik.
 

2. Jangan Katakan Apa yang Tidak Ingin Dipublikasikan

Lupakan semua yang Anda lihat di semua film-film tentang berbicara off-the-record dengan reporter. Segala sesuatu yang Anda katakan bisa menjadi catatan, bahkan jika wartawan mengatakan sebaliknya. Off-the-record tidak mengikat secara hukum.Wartawan tidak perlu izin untuk menulis atau mencetak apa pun yang Anda katakan, jadi jangan berbagi apa pun yang Anda tidak ingin melihatnya di web. 

3. Asumsikan Pembicaraan Anda Direkam 
Wartawan tidak perlu memberitahu Anda jika pembicaraan Anda direkam. 

4. Kumpulkan Data 

Reporter itu bukan satu-satunya orang yang bisa mengajukan pertanyaan. Dapatkan informasi sebanyak mungkin. Biarkan wartawan mengajukan pertanyaan. Kumpulkan data untuk menguasai masalah dengan baik.5. Membunuh Cerita. Kill the Story

Selengkapnya: 5 Rules for Dealing with the Media

Sumber Tips Media Handling Lainnya: 

Gunakan Media Sosial Selama Krisis

Sosial media memberikan tempat bagi Anda untuk berkomunikasi secara langsung dengan masyarakat --melalui situs web, facebook, twitter, atau media sosial lainnya.

Pengguna media sosial atau wara internet (netizen) ingin tahu bahwa Anda segera mengatasi masalah yang mungkin timbul.  

Sosial media adalah cara untuk mendapatkan sisi Anda dari hal-hal kepada masyarakat secara cepat dan akurat tanpa informasi diuraikan melalui pers. Menggunakan media sosial dengan benar dapat membuat atau menghancurkan sebuah perusahaan atau individu.

Reputasi bisnis dan kredibilitas sangat penting, dan sayangnya, itu bisa hancur dengan sangat cepat, terutama di era internet sekarang.  

Kehadiran media sosial perusahaan Anda memastikan bahwa Anda mengambil bagian dalam usia transparansi dan dialog langsung. Itu berarti ketika krisis merek muncul, Anda memiliki kesempatan langsung untuk berkomunikasi dengan basis pelanggan Anda dan meminimalkan kerusakan. Pada satu jam pertama, Anda sudah harus memastikan Anda menggunakan lokasi ini secara maksimal.

Baca Juga: Praktisi Humas Wajib Bisa Menulis dan Kelola Media Sosial

Demikian sekilas ulasan tentang Pengertian, Ruang Lingkup, dan Tips Media Handling. Wasalam. (www.romelteamedia.com).*

Romeltea Media

Tips Menulis di Website: Menulis untuk Orang-Orang Malas

Tips Menulis di Website: Menulis untuk Orang-Orang Malas
MENULISLAH untuk orang-orang atau pembaca yang malas. "Write for lazy people!" Demikian salah satu tips menulis di situs web, website, media online, atau blog dari Enchanting Marketing.

Tips atau saran yang wajib dilakukan, mengingat pembaca media online atau pengguna internet memang gak mau repot-repot berusaha memaba sebuah "display" atau tampilan teks (tulisan) yang susah dibaca.

Media online berbeda dengan media cetak. Saya sudah membahasnya di beberapa posting lain, misalnya Format Tulisan di Media Online atau Teknik Menulis di Media Online.



Masih banyak pengelola situs web, terutama situs web instansi pemerintah, yang "bandel" dengan "keukeuh" menyajikan tulisan dengan gaya media cetak. Misalnya, menggunakan alinea/paragraf panjang, menggunakan perataan teks justify (rata kiri-kanan), dan... menggunakan ukuran huruf yang kecil!

Beberapa kali saya mengisi pelatihan penulisn di media online di kalangan instansi, lalu membuka websitenya, dan memberikan masukan agar situs mereka banyak pengunjung dan kontennya enak/mudah dibaca.

Di era internet kini, praktisi humas instansi/perusahaan memang harus memiliki keterampilan mengelola media online. Saya sudah ulas di  posting Humas Online.

Kembali ke Tips Menulis di Website. Menulis untuk Orang-Orang Malas itu intinya menyusun atau menampilkan teks tulisan sedemikian rupa, sehingga mudah dipindai (scannable) dan dibaca (readable).

Format atau tampikan teks tulisan di website atau blog hendaknya:
  1. Alinea pendek. Satu paragraf maksimal 4-5 baris.
  2. Jarak Antar-Alinea. Ada "ruang putih" (white space) antar-alinea, tidak rapat, ada jarak atau spasi.
  3. Gunakan Rata Kiri. Align-left merupakan standar penulisan website --menurut World Wide Web Consortium (W3C).
“Many people with cognitive disabilities have a great deal of trouble with blocks of text that are justified (aligned to both the left and the right margins). The spaces between words create “rivers of white” running down the page, which can make the text difficult for some people to read."

"This failure describes situations where this confusing text layout occurs. The best way to avoid this problem is not to create text layout that is fully justified.” (World Wide Web Consortium/W3C).

Eh... saya teh mau mengulas tips menulis di web menurut Enchanting Marketing ini teh.... Begini katanya: menulislah untuk orang-orang malas. Pengunjung situs web Anda tidak mau susah-susah membaca teks Anda.

"Just like the lazy panther looks for an easy catch for his dinner, your web visitor doesn’t want to make an effort to read your text."

Nah, supaya tulisan Anda enak dibaca, mudah dimengerti, dan disukai pengunjung, maka:
  1. Use short paragraphs – four sentences max. Gunakan alinea pendek --maksimal empat kalimat per paragraf.
  2. Use short sentences – twelve on average. Gunakan kalimat-kalimat pendek --rata-rata 12 kata.
  3. Skip unnecessary words. Hindari kata-kata yang tidak perlu. (Gunakan Bahasa Jurnalistik)
  4. Avoid jargon and gobbledygook. Hindari jargon dan uraian yang berbelit-belit sehingga sulit dimengerti.
  5. Avoid the passive tense. Hindari kalimat pasif.
  6. Avoid needless repetition. Hindari pengulangan yang tak perlu.
  7. Address your web visitors directly. Use the word you. Gunakan kata "Anda".
  8. Shorten your text. Ringkas naskah Anda. Tulisan pendek lebih mudah dipahami dan lebih disukai pembaca ketimbang naskah panjang.
Khusus poin ke-8, untuk kepentingan Pengoptimalan Mesin Pencari - Search Engine Optimization (SEO), baik juga jika tulisan lengka, detail, dengan risiko jadi panjang.

Namun, tidak masalah jika disajikan dengan benar --aliena pendek, variasikan dengan subjudul, heading tag, highlight, gambar/grafis, rata kiri, dan ada jarak antar-alinea.

Demikian sekadar berbagi Tips Menulis di Website: Menulis untuk Orang-Orang Malas. Wasalam. (www.romelteamedia.com).*

Ilustrasi: Buku Jurnalistik Online: Panduan Mengelola Media Online. Penerbit: Nuansa.