Featured Image Post

9 Kesalahan Public Speaking (Pidato) yang Harus Dihindari

PUBLIC Speaking adalah aktivitas berbicara di depan umum, seperti pidato, ceramah, khotbah jumat, dan presentasi . Public Speaking seri...

Romeltea Media

OG Meta Tags Twitter untuk Share Posting Blog di Twitter Tampil Menarik

OG Meta Tags Twitter untuk Share Posting Blog di Twitter Tampil Menarik
Cara Memasang Twitter Card: OG Meta Tags Twitter Agar Sharing Posting Blog di Twitter Tampil plus Gambar dan Deskripsi.

OPEN Graph (OG) Meta Tags Twitter dipasang di template blog kita, jika saat share posting (artikel) blog ke Twitter yang tampil cuma judul dan link-nya doang.

Share Posting Blog di Twitter yang "normal" terdiri dari Judul, Gambar Thumbnail, Deskripsi, dan Link.

Berikut ini contoh posting blog yang di-share ke Twitter yang menampilkan gambar kecil:

OG Meta Tags Twitter untuk Share Posting Blog di Twitter Tampil Menarik

Nah, jika tampilan postingan blog Anda di Facebook hanya berupa judul dan link doang, tanpa gambar dan deskripsi seperti yang saya punya di atas, berikut ini kodenya.

OG Meta Tags Twitter untuk Share Posting Blog di Twitter Tampil Menarik

1. Di dashboard blogger Anda, klik Tema/Theme > Edit HTML
2. Copas kode berikut ini di bawah kode <head> atau di atas kode ]]><b:skin>

    <meta expr:content='data:blog.title' name="twitter:site"/>
    <b:if cond='data:blog.url == data:blog.homepageUrl'>
    <meta expr:content='data:blog.title' name='twitter:title'/>
    <b:if cond='data:blog.metaDescription'>
    <meta expr:content='data:blog.metaDescription' property='og:description'/>
    </b:if>
    </b:if>
    <b:if cond='data:blog.pageType == &quot;item&quot;'>
    <meta expr:content='data:blog.pageName' name="twitter:title"/>
    <b:if cond='data:blog.metaDescription'>
    <meta expr:content='data:blog.metaDescription' name="twitter:description"/>
    </b:if>
    </b:if>
    <b:if cond='data:blog.postImageUrl'>
    <meta expr:content='data:blog.postImageUrl' name="twitter:image:src"/>
    <b:else/>
    <b:if cond='data:blog.postImageThumbnailUrl'>
    <meta expr:content='data:blog.postThumbnailUrl' name="twitter:image:src"/>
    <b:else/>
    <meta content='http://4.bp.blogspot.com/-ZeYaf2Nu9o0/VFXGPuoitxI/AAAAAAAAeHQ/Cgn0KuW6XzA/s1600/no-image.jpg' name="twitter:image:src"/>
    </b:if>
    </b:if>
<meta content='summary' name='twitter:card'/>
<meta content='@username' name='twitter:site'/>
<meta content='@username' name='twitter:creator'/>
<meta expr:content='data:blog.homepageUrl' name='twitter:domain'/><meta expr:content='data:blog.canonicalUrl' name='twitter:url'/>

Catatan:
- Ganti @username dengan username akun Twitter Anda, misalnya @romeltea
- Jika ingin menampilkan gambar besar, ganti summary dengan summay_large_image menjadi <meta content='summary_large_image' name='twitter:card'/>
- Link gambar no-image yang warna merah bisa diganti dengan gambar lain, misalnya logo blog Anda, namun ukuran gambarnya minimal 600x400 pixel

3. Save!

Silakan tes tampilannya di Validator Twitter Open Graph. Jika sukses, hasilnya seperti ini.

OG Meta Tags Twitter untuk Share Posting Blog di Twitter Tampil Menarik

OG Meta Tags Twitter untuk Share Posting Blog di Twitter Tampil Menarik

Itu dia cara memasang Open Graph Meta Tags Twitter untuk Share Posting Blog di Twitter Tampil Menarik. Wasalam. (www.romelteamedia.com).*



Sumber1 | Sumber2

Romeltea Media

Media Cetak Bukan Masa Depan Wartawan

Media Cetak Bukan Masa Depan Wartawan. Media Online Menggantikan Perannya. Namun, Situs Berita Juga Mulai Terancam.

Media Online vs Media Cetak
Media Online vs Media Cetak. Image: The Odyssey Online

Koran Sindo, surat kabar terbitan grup media besar MNC Group, melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) ratusan karyawan. Kondisi ini seolah menjadi sinyal penguat suramnya bisnis media cetak di Indonesia.

Demikian diberitakan VOA Indonesia dengan judul "PHK Jurnalis dan Masa Depan Media Cetak".

Harian Sindo biro Yogyakarta yang memiliki 42 karyawan, baik jurnalis maupun bagian administrasi, ditutup akhir Juni 2017.

Sembilan wartawan suratkabar harian Bernas di Yogyakarta juga berhenti bekerja. Mereka terdiri dari kontributor daerah, redaktur hingga pemimpin redaksi.

Koran Tempo tidak lagi membagikan versi cetak di daerah, memusatkan distribusinya di Jabotabek dan memperkuat situs berita mereka.

Sejumlah tabloid dan majalah terbitan Kelompok Kompas Gramedia, satu persatu rontok dan menjadi kenangan. Badai ini terjadi di sejumlah media cetak di seluruh tanah air.

Pengamat media dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Ana Nadya Abrar, menyarankan para jurnalis untuk mau menyesuaikan diri.

Abrar yakin, ucapan selamat tinggal untuk media cetak tidak akan lama lagi diucapkan. Namun, informasi selalu dibutuhkan oleh masyarakat, dan karena itu jurnalis dapat bergerak di ranah tersebut. Jurnalis, kata Abrar, harus memahami tren, bahwa media online akan segera menggantikan media cetak.

Kondisi ini, menurut Abrar, sudah diprediksi oleh para ahli teori komunikasi. Persoalannya, prediksi itu datang lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya.

“Sebenarnya ada sebuah teori komunikasi yaitu Teori Matematika Komunikasi. Teori ini diciptakan oleh Claude Shannon dan Weaver pada 1948.

Berdasarkan teori itu, sebenarnya kondisi yang sekarang ini sudah diprediksi. Cuma yang belum terbayangkan adalah bahwa kenyataannya datang secepat itu.

Ilmu Komunikasi di kampus pun bergerak menyesuaikan diri. Mahasiswa telah dibekali dengan pemahaman mengenai perubahan industri media cetak. Mahasiswa yang mengambil konsentrasi jurnalistik, diharapkan mampu mengikuti perubahan cepat yang terjadi di luar. 

Kuliah dengan para praktisi yang sering dilakukan di kampus, diharapkan juga membekali calon-calon jurnalis itu dengan sudut pandang baru.

“Tahun ini kita memulai kurikulum baru yang memberi pengetahuan kepada mahasiswa tidak hanya jurnalisme konvensional seperti dulu, tetapi juga jurnalisme konvergensi. Bagaimana mereka menggunakan media sosial dan media online untuk menyiarkan berita. Kita sudah mencoba mengantisipasi itu.”

Media massa cetak yang masih akan bertahan diperkirakan adalah mereka yang terbit dari grup-grup media besar. Kombinasi bisnis televisi, radio, cetak dan online setidaknya mampu memberi nafas lebih panjang dengan subsidi silang, karena terbukti media cetak tidak lagi menjadi pilihan pemasang iklan. Padahal, dari sanalah industri ini menyambung nyawanya.

Demikian ulasan VOA Indonesia.

Setelah membaca berita di atas, saya jadi ingat salah satu postingan saya di blog ini: Media Online Membunuh Media Cetak.

Saat posting itu ditulis, kalangan wartawan sedang dihebohkan oleh gulung tikarnya sejumlah media cetak tahun 2015, termasuk Sinar Harapan, Koran Tempo Minggu, dan Harian Bola.

Internet mengubah banyak hal, termasuk kehidupan media. Media Cetak (Printed Media) jelas bukan masa depan wartawan atau calon jurnalis yang kini banyak menimba ilmu dan keterampikan di kampus.

Media Online Juga Terancam

Media Online adalah media masa kini dan masa depan. Masa depan jurnalistik ada di Jurnalistik Online.

Namun demikian, media online atau jurnalistik online juga bisa mati karena diabaikan pembaca, jika jurnalis online terus mempraktikkan jurnalisme umpan klik (clickbait journalism) yang bikin muak pembaca.

Sejumlah survei mulai menunjukkan media online (situs berita) mulai ditinggalkan pembaca. Media Sosial menjadi andalan baru untuk mendapatkan informasi, meski berisiko menemukan banyak informasi palsu (hoax).

Media online di Amerika Serikat bahkan mulai panik. Kekhawatiran mereka terhadap masa depan bisnisnya telah menjelma menjadi nyata. Pendapatan dari sisi iklan menurun seiring dengan anjloknya jumlah kunjungan ke situs media mereka. (Media Online Mulai Ditinggalkan Pembaca dan Pemasang Iklan)

Media-media online di Indonesia juga bisa makin ditinggalkan oleh pembaca bila hanya mengandalkan kecepatan dan mengabaikan akurasi serta menabrak etika jurnalistik. Faktor akurasi dan etika jurnalistik harus mendapat perhatian pengelola media online karena Google sedang membangun sistem. (Media Online di Indonesia Akan Ditinggalkan Pembaca).

Bahkan, masa depan media (berita) daring di Indonesia jauh lebih suram jika dibandingkan dengan nasib media cetak. Hal itu dilatarbelakangi semakin aktifnya media sosial yang menggantikan posisi media daring, termasuk penggalangan opini. (Nasib Media Daring Suram).

Nasib situs berita di Indonesia bisa lebih parah karena situs-situs berita di Indonesia menganut jurnalisme umpan klik (clickbait journalism) yang merupakan versi baru koran kuning. Pembaca lama kelamaan muak dan menyadari jebakan-jebakan klik yang disajikan situs-situs berita.

Dengan demikian, bukan saja Media Cetak yang gulung tikar, lama-lama media online juga bernasib sama. Media Sosial merajai internet dan menjadi sumber utama informasi.

Lalu, bagaimana masa depan profesi wartawan? Bagaimana masa depan jurnalis atau lulusan jurusan jurnalistik? Saya sudah mengupasnya di Daftar Jobs yang Butuh Keahlian Jurnalistik. Wasalam. (www.romelteamedia.com).*

Romeltea Media

Cara Menulis di Blog: Format Postingan Ramah Pembaca (User Friendly)

Cara Menulis di Blog: Format Postingan Ramah Pembaca (User Friendly).


Cara Menulis di Blog: Format Postingan Ramah Pembaca (User Friendly)
Image: webdesign.123coimbatore.com


RATA KIRI (align left), paragraf atau alinea pendek (short paragraph), dan ada jarak antar alinea (white space) merupakan prinsip utama atau pedoman dasar menulis postingan di blog atau website.

Tampilan teks tulisan di blog harus mudah dipindai (scannable) dan mudah dibaca. Rata kiri, alinea pendek, dan jarak antar-alinea akan membuat tulisan mudah dipahami, diserap, gak bikin lelah yang baca, dan pesannya nyampe dengan cepat.

Saya sering banget menemukan tulisan di blog yang tampilannya COPAS begitu saja dari file MS Words. Akibatnya, bukan saja jenis hurufnya berbeda dengan jenis font yang disetting di template, tapi juga "display" atau sajiannya "cetak oriented" banget.

Media Online atau media internet --termasuk blog-- memiliki karakteristik berbeda dengan media cetak. Tekuk ke dalam (indent) dan rata kiri-kanan (justify) adalah karakteristik media cetak. Gak cocok digunakan di media online.

Format postingan di blog atau website hendaknya:

1. Rata Kiri

Ini "fitrahnya" media internet. Standar baku penulisan di media online itu rata kiri. Biar bagian kiri saja yang rata. Yang kanan mah biarin aja "acak-acakan" juga, justru hal itu memudahkan mata pembaca menemukan ujung kalimat/kata dan awal kalimat/kata berikutnya dalam satu baris.

Justify adalah gaya media cetak (koran, majalah, buk). Bahkan, media cetak pun, untuk menciptakan suasana rileks di pembacanya, sering menggunakan rata kiri di layout naskahnya.

Bandingkan dua sajian postingan berikut ini. Saya screenshot menggunakan Snipping Tools dan edit dari laman Lorem Ipsum.

text align justify
Rata Kiri Kanan (Justify). Non-Scannable Text.

rata kiri
Rata Kiri (Left). Scannable Text.


Selain soal kemudahan pemindaian (scannable), rata kiri juga membuat sajian kata per kata jadi standar dan stabil. Simaklah kata W3C berikut ini:

“Many people with cognitive disabilities have a great deal of trouble with blocks of text that are justified (aligned to both the left and the right margins). The spaces between words create “rivers of white” running down the page, which can make the text difficult for some people to read."
"This failure describes situations where this confusing text layout occurs. The best way to avoid this problem is not to create text layout that is fully justified.” (World Wide Web Consortium/W3C).

Katanya,  "Banyak orang dengan cacat kognitif memiliki banyak masalah dengan blok teks yang dibenarkan (sejajar dengan margin kiri dan kanan). Ruang antara kata-kata menciptakan "sungai putih" yang mengalir di halaman, yang bisa membuat teks sulit dibaca beberapa orang. "

Gak enak banget terjemahannya ya? Maklum, itu terjemahan Mbah Google Translate :)

2.Alinea Pendek

Tulisan di blog atau media online, termasuk email dan status Facebook panjang, hendaknya menggunakan alinea (paragraf) pendek. Idealnya, satu alinea maksimal 5 baris.

Contoh sajian tulisan di poin 1 baru rata kiri sehingga masih susah dipindah dan tidak ramah pembaca. Mari kita ubah menjadi sajian postingan yang ramah pembaca (user friendly) dan mudah dipindah (scannable) seperti gambar berikut ini.

alinea pendek


Bagaimana? Lebih enak dibaca 'kan? Lebih "sedap" di mata 'kan? Maka, gunakanlah format postingan seperti itu di blog Anda.

3. Jarak Antar-Alinea

Harus ada jarak antar-alinea. Menyisakan "ruang kosong" atau "ruang putih" (white space) antar-paragraf. jangan bertumpuk!

Adanya jarak atau spasi antar-alinea akan membuat postingan blog/website kita mudah dipindai dan enak dibaca. Perhatikan contoh di atas!

Contoh lainnya, saya biasa mengacu kepada situs BBC Indonesia. Perhatian jumlah kata, panjang kalimat, dan jarak antar-alieneanya yang begitu sedap dipandang mata alias mudah dipindai dan dibaca.

alinea pendek dan jarak antar alinea
Contoh Alinea Pendek dan Jarak Antar-Alinea. Scannable !!!

4. Tidak Ada Indent

Postingan blog atau sajian teks/tulisan di media online tidak mengenal indent, yaitu tekuk/lekuk ke dalam di awal alinea, seperti gaya naskah koran atau majalah.

Coba simak situs-situs terkemuka, adakah indent? Takada!

Indent plus rata kiri-kanan seperti di bawah ini adalah gaya media cetak (koran, majalah, buku).

Bandingkan dengan Online Style Writing berikut ini:

Online Style Writing

Itulah Cara Menulis di Blog atau Panduan, Tips Menyusun Format Postingan Ramah Pembaca (User Friendly) di blog atau atau situs web.

Supaya postingan Anda sesuai dengan panduan di atas, langsung tulis postingan Anda di blog, jangan di Words. Kalaupun tidak bisa langsung di blog, tulis di Notepad nanti copas.

contoh teks di Notepad
 
Tips: To open Notepad, click Start, point to All Programs, point to Accessories, and then click Notepad

Tulisan di file MS Word juga copy+paste aja dulu ke Notepad, lalu copas lagi dari Notepad ke blog Anda.

5. Jangan Gunakan Semua Huruf Kapital

Don't use ALL CAPS! Saya sudah share tentang poin ini di Tips Menulis Online: Jangan Gunakan Semua Kapital.

Demikianlah ulasan tentang Cara Menulis di Blog agar Format Postingan Ramah Pembaca (User Friendly). Wasalam. (www.romelteamedia.com).*

Romeltea Media

Cara Mengatasi Gugup Saat Pidato (Tips Public Speaking)

Cara Mengatasi Gugup Saat Pidato (Tips Public Speaking)
Tips atau Cara Mengatasi Gugup, Grogi, Nerveous, Saat Pidato (Public Speaking).

GUGUP adalah berbuat atau berkata dalam keadaan tidak tenang; gagap; sangat tergesa-gesa; bingung: riuh tidak keruan bunyinya.

Grogi adalah merasa canggung atau takut berhadapan dengan orang banyak.

Demikian pengertian gugup dan grogi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring. Dalam bahasa Inggris, gugup disebut nervous yang artinya gelisah, gugup, takut.

Gugup merupakan kendala atau masalah utama dalam Public Speaking, terutama bagi orang yang tidak biasa berbicara di depan orang banyak.

Public Speaking artinya berbicara di depan umum, seperti pidato, ceramah, presentasi, memberikan sambutan, termasuk menyampaikan materi pelatihan.

Saya sudah share di posting sebelumnya tentang 4 cara mengatasi gugup dalam public speaking dan 3 Cara Jitu Mengatasi Grogi atau Gugup Saat Public Speaking.

Penyebab utama gugup 

Penyebab utama gugup adalah tidak terbiasa public speaking dan tidak menguasai materi. Anda tidak akan mengalami gugup/grogi jika sudah terbiasa berbicara di depan umum.

Anda juga tidak akan gugup jika menguasai materi atau topik pembicaraan alias tahu apa yang harus disampaikan kepada audiens (hadirin).

Maka, berdasarkan dua penyebab utama tersebut, cara mengatasi gugup saat pidato atau dalam public speaking adalah:
  1. Latihan, agar terbiasa.
  2. Baca, belajar, atau cari tahu, agar menguasai dan paham betul materi/topik pembicaraan.
Kali ini saya akan share tiga pengalaman saja saat mengalami gugup. Saya sudah terbiasa pidato atau menjadi pemateri pelatihan. Saya juga sudah terbiasa bicara di depan kelas --menyampaikan dan mengulas materi kuliah-- sebagai dosen honorer sejak 2000.

Namun, meski sudah terbiasa menjadi public speaker, saya juga pernah mengalami gugup. Seingat saya, sejauh ini sudah tiga kali saya merasa gugup atau grogi ketika akan melakukan public speaking:
  1. Di forum rapat ormas Islam.
  2. Di Pelatihan di Fakultas Kedokteran
  3. Di Pelatihan IT Fakultas Dakwah dan Komunikasi PTN Islam

Cara Mengatasi Gugup: Pengalaman Saya

Dalam salah satu rapat rutin di kantor ormas Islam Jawa Barat, tiba-tiba saya ditunjuk untuk memberikan tausiyah singkat sebelum rapat dimulai. Walah....!!!

"Kali ini kita persilakan Kang Romel memberikan tausiyah," kata pemandu rapat. Haduh! Bayangkan, peserta rapat mayoritas ulama, kyai, ustadz, dosen perguruan tinggi Islam, nah... kok saya harus memberi tausiyah kepada mereka? Ngajarin bebek berenang atau ngajarin burung terbang ini?

Gugup? Ya, tapi sejenak! Saya langsung mengatasinya dengan memilih topik tausiyah. Saya tidak memilih topik tentang shalat, zakat, puasa, haji, atau tema 'ubudiyah lainnya. Namun, saya pilih tema yang saya kuasai dan saya pikir tidak dikuasai oleh mayoritas peserta rapat.

Saya pilih topik tausiyah tentang Pentingnya Menulis alias tema jurnalistik.Intinya, saya mengemukakan menulis sebagai budaya ulama salaf dan mengajak hadirin rajin menulis, antara lain menulis di website ormas tersebut yang kebetulan saya buat dan kelola.

Beres. Lancar. Gugup teratasi.

Kesimpulan, cara Mengatasi Gugup: pilih topik pembicaraan yang kita kuasai.

Pengalaman kedua, ketika saya diundang mahasiswa Fakultas Kedokteran PTN di Bandung untuk memberi materi pelatihan tentang editing atau penyuntingan naskah. Gak ada masalah soal tema. Editing is my domain, dunia saya.

Namun, ketika masuk ruangan, kok tiba-tiba saya deg-degan. Penyebabnya, saya membayangkan semua peserta adalah calon dokter! Saya kok tiba-tiba "fobia" sama dokter ya? Mungkin trauma disuntik waktu kecil.

Bagaimana saya mengatasi rasa gugup itu? Saya tanya ke panitia. "Ini semuanya calon dokter?" Dijawab, "Nggak, Kang, banyak juga mahasiswa kebidanan".

Nah, gugup mulai berkurang. Nggak semuanya calon dokter membuat saya agak lega. Entah kenapa, kok takut sama calon dokter?

Gugup benar-benar hilang ketika saya meyakinkan diri, sayalah yang bersiapa menjadi pemateri. Sayalah yang menguasai editing naskah. Mereka, peserta, para calon dokter dan bidan itu, baru belajar sedikit tentang editing, makanya ngundang saya untuk share tentang editing!

Kesimpulan, Cara Mengatasi Gugup: Yakinkan diri bahwa kitalah yang menguasai materi dan siap presentasi, peserta datang untuk mendengarkan atau menyimak.
 
Pengalaman ketiga, yaitu ketika menjadi pemateri depan seluruh pimpinan, dosen, dan karyawan sebuah fakultas perguruan tinggi Islam di Bandung. Dekan, Wakil Dekan, Guru Besar, dan para dosen hadir.

Materi yang saya sampaikan tentang Pemanfaatan IT Blogging untuk Optimalisasi Perkuliahan. Ketika saya duduk di kursi pemateri, tiba-tiba saya menyadari, di depan saya ini, para peserta di depan saya ini adalah para cendekiawan, para imuwan, guru besar, dan banyak juga yang berprofesi sebagai kyai, ustadz, penceramah.

Walah....! Di depan saya rata-rata Master (S2), banyak Doktor juga (S3), Profesor juga banyak! Kumaha ieu...!

Tiba-tiba saya deg-degan, gugup, grogi. Saya ambil napas panjang. Bagaimana mengatasi gugup saya saat itu?

Selain menarik napas panjang, saya yakinkan diri saya, sayalah yang siap menjadi pemateri. Sayalah yang menguasai IT Blogging atau Media Online. Justru, pimpinan fakultas itu mengundang saya menjadi pemateri agar saya share pengalaman dan wawasan tentang tekonologi komunikasi dan informasi internet, khususnya blogging atau media online.

Jadi, saya bukan mau bicara soal ilmu agama atau ilmu lain yang sudah sangat dikuasai para peserta. Para peserta itu mayoritas masih awam tentang internet dan blogging.

Gugup pun lenyap. Penyampaian materi lancar jaya.

Kesimpulan, Cara Mengatasi Gugup: yakinkan diri bahwa kitalah yang siap menjadi pemateri/pembicara dan menguasai materi yang akan disampaikan.

Demikian sekadar berbagai pengalaman tentang Cara Mengatasi Gugup. Pengalaman Anda? Please, leave a comment! Wasalam. (www.romeltea.com).*

Romeltea Media

Bahasa Jurnalistik Terkontaminasi Bahasa Media Sosial

Bahasa Jurnalistik Terkontaminasi Bahasa Media Sosial
Bahasa Jurnalistik Terkontaminasi Bahasa Media Sosial dan Dirusak Jurnalime Umpan Klik.

BAHASA Jurnalistik adalah bahasa yang digunakan wartawan dalam menulis berita. Ciri khasnya adalah ringkas atau hemat kata, sederhana atau mudah dipahami, dan lugas atau langsung ke pokok masalah (to the point).

Belakangan, pengertian dan prinsip bahasa jurnalistik itu tidak berlaku bagi sebagian wartawan, khususnya jurnalis media online.

Mereka sudah tidak peduli dengan pedoman bahasa jurnalistik dan lebih memilih gaya bahasa "gaul" ala pengguna media sosial.

Saya sudah berkali-kali membahas fenomena praktik penulisan berita di media online, terutama dalam hal penulis judul, dengan tag Jurnalisme Umpan Klik (Clickbait) --gaya jurnalisme kuning versi online. Silakan simak di link ini: Umpan Klik.

Media sosial sudah memengaruhi praktik jurnalistik. Mungkin, ilmu jurnalistik tidak lagi dibutuhkan oleh praktisi media atau setidaknya sudah tidak lagi jadi pedoman.

Wartawan media online terkesan "seenaknya" menulis berita, terutama judul, sing penting mah membuat penasaran pengguna internet (user) alias pembaca sehingga mereka klik link judul berita yang disebarkan di media sosial.

Simak saja judul-judul berita "lebay bin alay" berikut ini yang bergaya media sosial dan tidak lagi berasa jurnalisme:

  • Wow, Ternyata Pulau Terdapat di Dunia Ada di Indonesia! 
  • Ternyata, Ini Akibatnya Jika Minim Kopi Setelah Minum Obat.
  • Begini Jadinya Jika Wajah Mirip Lionel Messi. 
  • Brutal! Setelah Pergoki Pasangan Mesum Di Taman, Lihat yang Dua Pria Ini Lakukan
  • Wanita Tua Rela Datang ke Rumah Sakit dan Sujud di Depan Pasien Pria Ini, Videonya Bikin Deg-degan
  • Pasangan Remaja Ini Berenang Pakai Gaya Tak Biasa, Videonya Bikin Merem-Melek
  • Inilah Bukti Kalau Jodoh di Tangan Tuhan, 3 Tahun Lalu Berpacaran, Endingnya Begini, Yang Sabar Bro
  • BREAKING NEWS - Perdagangan Saham Pagi ini Ngadat. Ada Apa dengan BEI?
  • Beraroma Busuk Menyengat, Ternyata Harga Batu Aneh Ini Bikin Kaya Mendadak
  • Pelaku Pembacokan Ahli IT ITB Ditangkap, Ini Komentar Tetangga.
  • Misbakhun Permasalahkan 17 Penyidik KPK, Ini Komentar Polri.
  • Wayne Rooney Ke Everton, Ini Komentar Jose Mourinho
Tribunnews dan Kompas adalah "pelopor" jurnalisme umpan klik. Media online atau situs berita lainnya, terutama situs-situs berita berbasis blog, ikut-ikutan alias "latah".

Maka, maraklah fenomene jurnalisme atau judul umpan klik (clickbait journalism) yang merupakan bentuk terendah jurnalisme media sosial (lowest form of social media journalism). Simak: History of Clickbait.

Akibatnya, saat ini Bahasa Jurnalistik Terkontaminasi Bahasa Media Sosial. Bahasa Jurnalistik dikenal juga dengan istilah Bahasa Media, Bahasa Pers, dan Bahasa Suratkabar (Newspaper Language).

Dulu, kaidah bahasa jurnalistim dirusak oleh media-media yang masuk kategori Koran Kuning penganut Jurnalisme Kuning (Yellow Journalism) dan Jurnalisme Got (Gutter Journalism).

Bukan hanya “doyan” memuat berita asusila, skandal, cabul, dan kriminalitas, koran kuning juga identik dengan judul-judul berita yang sensasional, bombastis, dan “dramatis”. Kadang isinya tidak sesuai dengan judul.

Bahasa Jurnalistik menjadi pedoman wartawan profesional. Ringkas dan Lugas yang menjadi ciri khas bahasa jurnalistik, yakni mengedepankan fakta terpenting di bagian awal (judul dan teras), kini tergerus kepentingan trafik atau pageviews.

Wartawan  atau media online mengabaikan kaidah bahasa jurnalistik akibat persaingan ketat dan kepentingan ekonomi (jumlah klik/trafik). Trafik atau jumlah kunjungan di media online identik dengan pendapatan AdSense.

Media Sosial --utamanya Facebook, Twitter, Instagram, Youtube-- yang menjadi "raja internet" saat ini sudah membuat wartawan mengikuti irama atau arus netizen di media sosial. Judul berita pun sudah menjadi layaknya update status media sosial.

Saya tidak tahu, apakah ilmu jurnalistik, termasuk bahasa jurnalistik, masih diperlukan oleh wartawan? Apakah ilmu jurnalistik masih perlu masuk dalam kurikulum atau silabus Jurusan Ilmu Komunikasi? Bahkan, apakah Jurusan Jurnalistik masih diperlukan?

Sia-sia saja 'kan, capek-capek kuliah jurnalistik, pas di lapangan, saat jadi wartawan semua yang didapat di kelas ternyata tidak berlaku akibat fenomena jurnalisme umpan klik dan jurnalisme media sosial alias jurnalisme kuning versi baru.

Tapi, kata teman saya, belajar jurnalistik masih perlu, minimal jadi tahu mana jurnalistik yang baik dan mana jurnalistik yang tidak baik. Baiklah... !Wasalam. (www.romeltea.com).*