Menulis

Haruskah Kuliah Jurnalistik untuk Jadi Wartawan?

Posted by Romel Tea ● Follow @romeltea ● Like Romeltea Media on Facebook

wartawan jurnalistik
Untuk jadi wartawan memang tidak harus kuliah jurnalistik. Namun, sarjana jurnalistik akan menjadi wartawan yang jauh lebih baik, lebih profesional, dan lebih beretika.

"Haruskah Kuliah Jurnalistik untuk Jadi Wartawan?" atau "Untuk jadi wartawan, mestikah kuliah jurusan jurnalistik?" adalah pertanyaan "klasik".

Banyak mahasiswa jurusan jurnalistik jadi "galau" dengan adanya pertanyaan tersebut. Mungkin banyak juga lulusan SMA yang membatalkan niatnya daftar di Jurusan Komunikasi Jurnalistik.


Pertanyaan "Haruskah Kuliah Jurnalistik untuk Jadi Wartawan?" muncul karena empat hal berikut ini:
  1. Banyak wartawan yang bukan sarjana jurnalistik bahkan tidak pernah duduk di bangku kuliah sama sekali.
  2. Perusahaan media atau lembaga pers, saat membuka lowongan kerja wartawan, umumnya menyebutkan "Sarjana S1 Semua Jurusan", tidak spesifik menyebutkan syarat "S1 Jurnalistik" atau "S1 Komunikasi".
  3. Semua orang bisa menulis berita (tugas utama wartawan), bahkan di era internet sekarang siapa saja bisa menjadi wartawan.
  4. Jurnalistik adalah ilmu terapan (applied science) sehingga bisa dikuasai dan didapatkan dengan cara mengikuti training singkat jurnalistik dan rajin berlatih menulis, misalnya dengan blogging.
Jadi, kesimpulan sementara, tidak harus kuliah jurnalistik untuk menjadi wartawan. Kesimpulan ini tentu membuat ratusan ribu bahkan mungkin jutaan mahasiswa jurusan jurnalistik di berbagai kampus di Indonesia "terpukul" dan bertanya:  

"Sia-sia dong gue belajar ilmu jurnalistik di bangku kuliah?" atau "Ngapain gue capek-capek kuliah jurnalistik?"

Baca juga: Masa Depan Jurnalistik dan Wartawan Masa Depan

Pendidik & Profesional: Wartawan Harus Kuliah Jurnalistik 

Mari kita telusuri lebih dalam. Dari hasil "studi online" alias Googling, saya mendapatkan "data ilmiah" yang mementahkan kesimpulan sementara di atas.

Jurnalistik dan wartawan bukan hanya soal kemampuan menulis berita, tapi juga terkait dengan kode etik (etika profesi) atau sikap (attitude).

Data-data berikut ini membawa kita pada kesimpulan: wartawan yang kuliah jurnalistik jauh lebih baik dan lebih profesional dibandingkan yang tidak pernah kuliah di jurusan jurnalistik. Karenanya, untuk jadi wartawan profesional HARUS kuliah jurusan jurnalistik.

Data terpenting tentang kaitan kuliah jurnalistik dengan profesi wartawan saya dapatkan di halaman Poynter News University: The Future of Journalism Education.

Hasil survei dengan responden lebih dari 1,800 kalangan pendidik (journalism educators), profesional media, dan mahasiswa menunjukkan data sebagai berikut:
  • 96% journalism educators dan 57% media professional menyatatakan kuliah jurnalistik sangat penting dan "extremely important" agar wartawan memahami nilai-nilai jurnalisme atau kaidah jurnalistik. 
  • Lebih dari 80% pendidik dan 25% media profesional menyatakan kuliah jurnalistik sangat penting untuk memahami dan menguasai keteampilan menulis berita (news gathering skills).

survei kuliah jurnalistik
Credit: mediashift.org

Salah satu responden dari kalangan profesional media menyatakan, wartawan modern mesti mampu menulis, menggunakan kamera, editing, mahir menggunakan media sosial, dan bekerja cepat. Itu semua bisa dilatih dan didapatkan dengan baik di bangku kuliah jurnalistik.

Baca Juga: Keahlian Wartawan Modern.

Lulusan atau sarjana jurnalistik juga lebih berpeluang diterima di media dan lebih berpotensi sukses dalam kariernya dibandingkan yang tidak kuliah jurnalistik.

survei wartawan kuliah jurnalistik

Halaman The Guardian menyebut kaitan antara kuliah jurnalistik dan profesi wartawan sebagai "isu yang terus muncul" (continous issue).

Kalangan profesional media yang tidak berlatar belakang jurusan jurnalistik mengklaim, tidak harus kuliah jurnalistik untuk jadi wartawan.

Namun, profesional media yang berlatar belakang jurusan jurnalistik lebih lantang mengatakan mereka lebih percaya diri (more confident) dan lebih terdidik (well educated) sehingga lebih profesional --karena profesionalisme diikat dengan kode etik (ethics), bukan semata-mata skills.

Keunggulan Lulusan Jurnalistik

Seorang penyiar pernah datang ke ruangan saya --saat saja menjadi Program Director di sebuah stasiun radio swasta terkemuka di Kota Bandung.

Dia penyiar baru, namun dalam waktu singkat meraih banyak pendengar dan penggemar (fans). Siarannya selalu dibanjiri SMS dan telepon on air.

Ia datang ke ruangan saya dan mengatakan: "Kang, saya sudah bener 'gak ya siarannya?" Saya balik bertanya, "bener gimana?"

"Saya merasa sudah mengikuti format siaran radio ini, namun saya kok ngerasa kurang percaya diri, sudah bener belum siaran saya sesuai dengan kaidah siaran radio? Soalnya, saya tidak pernah belajar teori siaran, tidak tahu ilmu siaran," jelasnya.

Sang penyiar memang bukan lulusan broadcasting dan tidak pernah ikut kursus siaran radio. Maka, saya hanya menyarankan dia beli dan baca buku-buku tentang siaran radio, termasuk Broadcast Journalism dan Dasar-Dasar Siaran Radio.

Kasus sang penyiar memperkuat hasil survei di atas, penyiar yang lulusan broadcasting akan lebih percaya diri ketimbang Radio Host yang tidak pernah belajar ilmu siaran, sebagaimana wartawan lulusan jurnalistik akan lebih "PD" dan paham dunia media ketimbang wartawan yang hanya mengandalkan "bisa nulis"

Dari pengalaman saya selama terjun di dunia media (jurnalistik), saya mendapatkan banyak sekali fakta, wartawan lulusan jurnalistik memiliki keterampilan teknis reportase, menulis, dan etika yang lebih baik dibandingkan yang bukan lulusan jurnalistik.

Lulusan jurnalistik dibina selama bertahun-tahun dengan berbagai disiplin ilmu komunikasi jurnalistik dan komunikasi media, termasuk idealisme dan profesionalisme jurnalis, juga dilatih dari "nol" soal reportase dan penulisan berita. Itulah yang membuat mereka lebih baik dan lebih profesional.

Memang, tidak ada jaminan wartawan lulusan jurnalistik pasti lebih berkualitas karena yang namanya mahasiswa --jurusan apa pun-- tidak semuanya "syukur nikmat" alias "rajin dan serius belajar". Mahasiswa jurnalistik yang kuliahnya "asal", tentu kualitasnya pun "abal-abal".

Kesimpulan

Untuk menjadi wartawan, faktanya, memang tidak harus kuliah jurnalistik. Namun, lulusan jurusan jurnalistik akan menjadi wartawan yang jauh lebih baik, lebih profesional, dan lebih beretika dibandingkan dengan yang hanya mengandalkan kemampuan menulis semata.

Bahkan, mereka yang disebut wartawan bodong, wartawan abal-abal, wartawan bodrex, kemungkinan mayoritas --kalau tidak semuanya-- bukan lulusan jurnalistik. Mereka hanya mengandalkan "sedikit" kemampuan menulis lalu "sok" bisa jadi wartawan.

Banyak wartawan profesional yang bukan lulusan jurnalistik, sebagaimana juga banyak profesional non-jurnalistik yang lulusan jurnalistik. Lulusan kuliah jurnalistik tidak harus selalu jadi wartawan karena profesi dan "takdir" tidak selalu berbanding lurus dengan latar belakang pendidikan formal. Wasalam. (www.romelteamedia.com).*

References:
  • https://www.newsu.org/future-journalism-education-2013
  • http://mediashift.org/2013/08/do-journalists-need-a-journalism-degree-educators-practitioners-disagree/
  • https://www.quora.com/What-are-your-options-as-a-journalist-without-a-college-degree
  • http://www.poynter.org/news/99591/do-i-need-a-degree-to-work-in-journalism/
  • http://www.theguardian.com/education/2014/may/27/journalism-postgraduate-degree-is-it-worth-it 

Tags: Kuliah Jurnalistik, Jurusan Jurnalistik, Profesi Wartawan, Media, Pers, Lulusan Jurnalistik, Pendidikan Wartawan.

Author:

I am a Blogger, Media Practisioner, and Practical Communication Trainer. I share my own knowledges, experiences, and skills about practical communication - writing, speaking, blogging - and my hobbies and concerns. Visit my official website Romeltea.

Previous
« Prev Post
1 Komentar untuk "Haruskah Kuliah Jurnalistik untuk Jadi Wartawan?"

Terima Kasih infonya... Ijin copy ya?

You comment, I'll visit back your blog. If you have one. Komentar SPAM dan LINK AKTIF tidak akan muncul.