Pengertian & Karakteristik Bahasa Jurnalistik

Romel Tea   Follow @romel_tea   Like RomelteaMedia on Facebook

Pengertian & Karakteristik Bahasa Jurnalistik
Pengertian & Karakteristik Bahasa Jurnalistik

BAHASA jurnalistik adalah gaya bahasa yang digunakan oleh wartawan dalam menulis berita di media massa. Demikian bahasa jurnalistik sering didefinisikan.

Karenanya, bahasa jurnalistik disebut juga bahasa media, bahasa pers, dan bahasa suratkabar (newspaper languange). Istilah Inggrisnya: Languange of Mass Communications (Bahasa Komunikasi Massa).

Wartawan profesional sangat menguasai gaya bahasa jurnalistik. Karenanya, berita yang ditulisnya akan ringkas, lugas, mudah dipahami, dan logis.

Jika ada tulisan wartawan yang tidak enak dibaca dan "boros kata", dipastikan sang wartawan belum profesional karena belum menguasai senjata utama dalam menulis berita.

Bahasa jurnalistik hadir untuk memberi panduan dalam menyampaikan informasi secara efektif dan efisien. Pembaca lebih suka naskah berita ringkas (pendek) ketimbang yang panjang. Pembaca lebih suka, lebih tertarik, dan lebih mudah memahami berita ringkas dan lugas ketimbang yang panjang dan bertele-tele.

Menurut wartawan senior Rosihan Anwar, Bahasa yang digunakan oleh wartawan dinamakan bahasa pers atau bahasa jurnalistik.

Bahasa jurnalistik memiliki sifat-sifat khas yaitu : singkat, padat, sederhana, lancer, jelas, lugas, dan menarik. Bahasa jurnalistik didasarkan pada bahasa baku, tidak menganggap sepi kaidah-kaidah tata bahasa, memperhatikan ejaan yang benar, dalam kosa kata bahasa jurnalistik mengikuti perkembangan dalam masyarakat.

Bahasa jurnalistik memiliki gaya atau ciri khas tersendiri yang berbeda dengan bahasa akademis, ilmiah, atau bahasa formal (birokratis).

Karakteristik Bahasa Jurnalistik

Saya sudah menuangkan seluk-beluk bahasa jurnalistik ini dalam buku kecil, Bahasa Media: Panduan Bahasa Jurnalistik. Anda yang berminat bisa kontak penerbitnya: BATIC Press Jln. Cikutra 276-D Bandung, Tlp. (022) 7206964.

Berikut ini karakteristik utama bahasa jurnalistik:

1. Ringkas, Singkat, Padat.

Bahasa jurnalistik itu hemat kata (economy of words) sehingga memilih kata-kata atau kalimat yang lebih ringkas ata sedikit huruf. Misalnya, dalam menulis naskah berita, bahasa jurnalistik lebih memilih kata "sekitar" ketimbang "kurang lebih" dan "mencuri" ketimbang "melakukan pencurian".

Istilah Keep It Simple & Short (KISS) sangat familiar di kalangan wartawan karena menjadi pedoman dalam penulisan berita.

Wartawan profesional tidak akan menambahkan kata "lalu" atau "mendatang" dalam, misalnya, digelar 1 Januari 2017 mendatang atau berlangsung 2 Desember 2016 lalu. 

Tambahan kata mendatang dan lalu dalam kalimat di atas tidak perlu karena sudah jelas. Demikian juga dalam penulisan hari, tanggal, dan bulan, tidak perlu lagi menambahkan kata pada tanggal, pada hari, atau pada bulan, seperti pada hari Minggu (4/12/2016), pada tanggal 2 Desember 2016, pada bulan Maret 2017 karena sudah dipahami, Minggu, 2 Desember, dan Maret itu adalah hari, tanggal, dan bulan.

2. Lugas & Jelas

Lugas artinya langsung kepada pokok permasalahan (to the point), tidak bertele-tele, tidak berputar-putar, juga tidak berbunga-bunga atau menggunakan kata-kata berona (colorful words).

Misalnya, bahasa jurnalistik lebih memilih menangis ketimbang menitikkan air mata.

Lugas juga berarti tegas, tidak ambigu atau bermakna ganda, menghindari eufemisme atau penghalusan kata dan kalimat yang bisa membingungkan pembaca sehingga terjadi perbedaan persepsi dan kesalahan kesimpulan. 

Kata-kata lugas mengandung makna tunggal atau satu arti, menghindari kemungkinan adanya makna dan penafsiran lain.

3. Sederhana, Mudah Dipahami.

Bahasa jurnalistik memilih kata atau kalimat sederhana, yaitu memilih kata atau kalimat yang dipahami orang awam, paling banyak diketahui maknanya oleh khalayak pembaca yang heterogen.

Contoh, Valentino Rossi mengasapi Jorge Lorenzo bukan kalimat sederhana alias tidak umum, dibandingkan Valentino Rossi mengalahkan Jorge Lorenzo.

4. Hindari Jargon

Sama dengan poin 3, yakni sederhana dan mudah dipahami, bahasa jurnalistik harus menghindari jargon, yaitu kata atau istilah yang hanya dimengerti dan dipahami oleh kalangan tertentu atau sebagian kecil pembaca, misalnya istilah akademis dan teknis.

Kalaupun jargon tidak bisa terhindarkan dalam penulisan berita, maka istilah teknis itu harus disertai penjelasan dan ditempatkan dalam tanda kurung.

5. Logis

Bahasa jurnalistik menggunakan kalimat logis, yakni perkataan yang masuk akal (KBBI). Kalimat artinya perkataan. Logis artinya sesuai dengan logika, benar menurut penalaran, atau masuk akal.
Contoh kalimat logis a.l. mengajarkan mata kuliah Jurnalistik di kampus (bukan mengajar mata kuliah karena yang diajar adalah mahasiswa); Lalu-Lintas di Jalan Raya Macet (bukan jalan macet karena yang macet alias tidak bergerak itu kendaraan, bukan jalannya).

Kalimat logis juga bermakna terstruktur dengan baik sesuai dengan kaidah bahasa, yaikni mengacu pada rumus Subjek - Predikat - Objek - Keterangan (SPOK), seperti Mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan kampus, Jumat (2/12/2016).

6.  Mengutamakan kalimat aktif

Kalimat aktif lebih mudah dipahami dan lebih disukai oleh khalayak pembaca daripada kalimat pasif. Kalimat aktif juga lebih dinamis dan "greget" ketimbang pasif. Misalnya, Banjir melanda Kota Bandung lebih baik ketimbang Kota Bandung dilanda banjir.

Demikian ulasan ringkas tentang Pengertian & Karakteristik Bahasa Jurnalistik sebagai panduan menulis berita bagi pemula. Wasalam. (www.romelteamedia.com).*

Related Posts

Author:

I am a Blogger, Media Practisioner, and Practical Communication Trainer. I share my own knowledges, experiences, and skills about practical communication - writing, speaking, blogging - and my hobbies and concerns. Visit my official website Romeltea.

0 Komentar untuk "Pengertian & Karakteristik Bahasa Jurnalistik"

You comment, I'll visit back your blog. If you have one. Komentar SPAM dan LINK AKTIF tidak akan muncul.