Featured Post

Pengertian Media dan Wartawan yang Sebenarnya

Media dan wartawan tidak bisa dipisahkan. Media --dalam hal ini media massa atau media pers-- pasti punya atau dikeloka oleh wartawan (jurn...

Iklan Nyawa Media, Iklan Berhenti Media Mati

Iklan Nyawa Media, Iklan Berhenti Media Mati

0 Follow @romel_tea
Iklan Nyawa Media, Iklan Berhenti Media Mati. Iklan Menurun Ancaman Kelangsungan Bisnis Media Massa.

Iklan Nyawa Media, Iklan Berhenti Media Mati

Iklan adalah nyawa media massa atau perusahaan pers. Iklan berhenti, maka media akan mati. Dulu, zaman kejayaan media cetak (koran, tabloid, majalah), nyawa media adalah iklan dan penjualan (sirkulasi). 

Pendapatan surat kabar dari penjualan bahkan bisa lebih besar dari iklan. Agen-agen koran juga ikut kaya raya. 

Kini, era internet, nyawa media online hanyalah iklan, terutama Google AdSense. Iklan lokal --dalam arti pasang langsung ke media, jarang. Perhatikan saja iklan-iklan yang muncul di situs-situs berita --dominan bahkan semuanya iklan Google.

Sumber kedua penghasilan media massa sekarang adalah konten premium atau konten berbayar. Dikenal dengan istilah Paywall --sistem yang mencegah pengguna Internet mengakses konten Web tertentu tanpa langganan berbayar.

Paywall berarti pembaca media daring tidak bisa menikmati konten secara bebas jika tidak mengeluarkan sejumlah uang untuk berlangganan. Tapi, tampaknya sistem ini tidak bisa diandalkan. Informasi sekarang bisa didapat di banyak situs web secara gratis, termasuk di media sosial.

Pembaca atau pengguna internet bisa bantu kelangsungan hidup media dengan membuka blokir iklannya (AdBlock). Pengguna harus mengerti, informasi didapatkan secara gratis berkat adanya iklan.

Contoh terbaru yang menunjukkan iklan nyawa media adalah PHK di media terbesar Amerika Serikat, CNN. Dikabarkan, CNN PHK karyawannya gegara pendapatan iklannya menurun.

Iklan pula nyawa pata blogger atau narablog. Iklan Google dan Content Placement menjadi sumber kelangsungan situs-situs web pribadi seperti romelteamedia.com ini.

Para blogger akan terus berbagi pengetahuan, sedekah ilmu, berbagi pengamalan, jika blognya banyak pengunjung dan menghasilkan uang --minimal untuk membayar sewa domain dan/atau hosting.

Pemasang iklan --baik langsung maupun melalui Google-- menurun sejak pandemi. Sebelum pandemi pun, banyak perusahaan atau bisnis yang mengembangkan marketing sendiri dengan digital marketing --content marketing, sosial media marketing, blog bisnis, dll.

Karena iklan (AdSense) adalah nyawa media, maka media pun "terpaksa" mengembangkan strategi agar mendapatkan jumlah pengunjung (trafik) dan "pageview" sebanyak-banyaknya. Salah satu caranya adalah mempraktikkan "jurnalisme umpan klik" (clickbait journalism).

Iklan juga nyawa media konvensional radio dan televisi. Sampingan pendaparan radio/tv adalah event off air. Namun, off air juga tidak lagi sepopuler masa jaya radio dan televisi.

Meski demikian, bisnis media masih menjanjikan. Masa depannya masih cerah. Masa depan media terus beralih ke media digital untuk hiburan, berita, dan bisnis, yang berarti peluang besar bagi bisnis. 

Menurut Pew Research Center, industri media digital terus berkembang, dengan sekitar 93% orang dewasa Amerika mengonsumsi sebagian berita mereka secara online.*

Tips Mengecat Tembok yang Belum Diplester

Tips Mengecat Tembok yang Belum Diplester

0 Follow @romel_tea
Tips Mengecat Tembok yang Belum Diplester

Sebuah bangunan rumah agar terlihat indah dan enak untuk dipandang salah satu caranya adalah dengan cara memilih dan memadukan warna cat yang sesuai agar visualisasi dari gedung maupun rumah tersebut bisa enak untuk dilihat.

Saat ini tren eksterior maupun interior rumah yang paling populer dan diminati adalah desain klasik. Desain ini hampir diminati oleh seluruh orang. 

Namun dalam prosesnya, ada juga gang saat awal pembangunan tidak memerlukan plester pada dinding di mana hal ini memiliki tujuan untuk memunculkan motif asli dari tembok rumah.

Tips Tepat Cara Mengecat Tembok Rumah yang Belum Diplester

Selain memiliki nilai yang fungsional, bisa dikatakan setiap pemiliki rumah pasti ingin agar rumah mereka memiliki nilai estetika yang baik. Agar rumah Anda terlihat lebih cantik dan nyaman untuk ditinggali maka kebanyakan orang memilih untuk memadukan warna tembok yang sesuai dengan tema rumah mereka. 

Rumah yang tadinya terlihat buram dan suram pasti akan terlihat cerah dan ceria seketika ketika Anda memilih warna cat tembok yang tepat.

Akan tetapi, tidak semua dinding rumah sudah diplester karena masih ada beberapa rumah yang temboknya masih belum diplester. Jika Anda belum begitu paham, sebenarnya plester sendiri merupakan proses akhir dari pembuatan dinding rumah. 

Proses ini dilakukan dengan cara memberikan lapisan adonan tembok dari campuran air, pasir, dan semen. Proses memiliki tujuan untuk membuat tembok rumah bisa terlihat rata dan juga rapi.

Selain itu, proses plester juga dilakukan lebug dahulu sebelum proses pengecatan agar cat tembok bisa lebih mudah melekat pada dinding. 

Jika Anda lebih tertarik dan memiliki niat untuk tidak melakukan plester pada dinding rumah, tetapi ingin mengaplikasikan cat tembok maka Anda bisa mengikuti tips yang akan kami berikan. 

Berikut adalah cara mengecat tembok pada tembok yang belum diplester dengan benar dan tepat, antara lain:

1. Bersihkan Dinding Terlebih Dahulu

Pertama Anda bisa melakukan proses pembersihan terlebih dahulu. Bersihkan setiap kotoran, jamur, hingga mortar yang tidak rapi pada dinding. Pastikan jika setiap permukaan pada dinding dalam kondisi yang rata dan bersih sebelum Anda mengaplikasikan cat dinding. 

Ketika melakukan proses pembersihan ini sebaiknya Anda berhati hati karena ketika menyikat terlalu keras akan membuat spasi mortar runtuh atau bahkan menggerus material dari dinding itu sendiri.

2. Menyiapkan Alat Mengecat

Untuk mengecat dinding tembok tanpa diplester berikutnya adalah dengan menyiapkan alat untuk mengecat. Alat yang bisa Anda siapkan mulai dari kuas yang besar maupun kuas kecil, koran atau kain lap yang berfungsi sebagai pelapis cat tidak mengotori lantai rumah. Karena tembok yang belum di plester membuat Anda tidak bisa melakukan proses cat dengan menggunakan roll karena permukaan yang tidak rata.

3. Memilih Cat

Karena permukaan dinding yang tidak rata dan kasar serta mudah menyerap air maka sebaiknya Anda menggunakan 2 tipe cat. Lapisan cat pertama Anda bisa menggunakan plamir sebagai lapisan dasar karena plamir akan membantu menahan cat agar tidak terlalu terserap dalam dinding. Lapisan kedua, Anda bisa memilih warna yang Anda inginkan.

Temukan produk cat terbaik yang sesuai dengan penggunaan. Anda bisa menengok halaman Pickybest.id untuk melihat rekomendasi cat terbaik dari berbagai merek. Pilihlah produk dari merek terkenal dengan harga yang sesuai dengan budget Anda, ya.

4. Mengaduk Cat Sesering Mungkin

Berikutnya adalah dengan mengaduk cat yang akan diaplikasikan pada tembok rumah sesering mungkin agar cat tidak menjadi kering dan kental. 

Jika kekentalan dari cat tembok terbaik semakin pas maka proses pewarnaan dinding akan semakin bagus dan kuat mengikat pada dinding tersebut tanpa perlu proses plester.

5. Aplikasikan Cat Pada Tembok

Setelah mengikuti tips atau langkah langkah yang sebelumnya sudah kami jelaskan maka Anda bisa lakukan aplikasi cat pasa tembok rumah Anda. 

Sebaiknya Anda mengaplikasikan lapisan cat pertama dengan menggunakan kuas, lalu biarkan lapisan pertama cat tersebut hingga mengering dengan sempurna. Jika lapisan cat sudah mengering maka Anda bisa membersihkan kembali permukan lalu lanjut mengaplikasikan lapisan cat kedua.

Demikianlah penjelasan kami mengenai tips mengecat tembok yang belum diplester.

Ada 4 Tipe Kepribadian Media Sosial, Anda Termasuk yang Mana?

Ada 4 Tipe Kepribadian Media Sosial, Anda Termasuk yang Mana?

0 Follow @romel_tea
Ada 4 Tipe Kepribadian Media Sosial

Sebagai pengguna bahkan "aktivis" media sosial, kita perlu memahami jenis-jenis peribadian di media sosial atau social media personality. Setiap orang yang menggunakan media sosial mengembangkan kepribadian media sosial.

Ada empat tipe kepribadian media sosial menurut Landa Social. Keempat tipe kepribadian media sosial ini adalah pemimpin (leader), penyuka (liker), pengintai (lurker), dan penyendiri (loner).

Media sosial telah memberi kita banyak hal – cara baru untuk berkomunikasi, pengetahuan mendalam tentang kehidupan pribadi setiap orang. Medsos juga memberi kita kemampuan menakutkan untuk menjadi orang yang sama sekali berbeda.

Faktanya, setiap orang yang membaca ini memiliki "kepribadian media sosial" mereka sendiri. 

Kepribadian ini ditentukan oleh hubungan kita dengan media sosial, yang mencakup segala sesuatu mulai dari cara kita melihat, berinteraksi dengan, dan menyerap media sosial, hingga cara kita berhubungan dengan orang lain menggunakan berbagai platform sosial.

Kepribadian media sosial kita sepenuhnya terpisah dari kepribadian kehidupan nyata kita. Banyak orang pendiam dan penakut di dunia nyata, tapi begitu "liar" dan "sangat berani" di media sosial. Betul

Mari kita bahasa keempat jenis kepribadian media sosial ini. Keempat tipe kepribadian media sosial ini memainkan peran besar dalam cara kita terlibat dengan merek secara online dan mengonsumsi konten mereka. 

Tipe Kepribadian Media Sosial

Seperti dalam kehidupan nyata, beberapa kepribadian online cenderung memimpin percakapan, beberapa menanggapi, beberapa mendengarkan, dan beberapa nongkrong di bar koktail sendirian. 

1. Leaders

Leaders adalah pembuat konten (content creator). Mereka menyiarkan pendapat mereka, baik dan buruk, di seluruh media sosial. 

Leaders atau pemimpin memiliki kekuatan untuk memengaruhi orang lain di jaringannya dengan membuat konten. Jika kontennya menarik, mereka akan banyak pengikut (followers) dan menjadi influencer atau selebram. 

Influencer berbeda dengan buzzer. Untuk menjadi buzzer, Anda tak perlu banyak pengikut. Hanya perlu aktif dan punya banyak akun medsos. 

2. Likers

Likers adalah tipe kepribadian media sosial yang suka LKS (Like, Komentar, Share) status orang lain. Para "penyuka" ini menentukan apakah konten yang dibuat oleh Leader berhasil atau tidak karena mereka terlibat dengan apa yang Likers publikasikan.

Likers tidak membuat. Sebaliknya, mereka mengambil kepemilikan dengan berbagi, berkomentar, dan terlibat dengan konten alias LKS tadi.

Anggap mereka sebagai mediator dunia media sosial; mereka mempengaruhi apa yang sukses di internet dan menentukan apa yang relevan. 

Likers menentukan apa yang berhasil di Internet dan mereka tidak dapat diabaikan. Mereka berperan membuat sebuah postingan atau status jadi viral.

3. Pengintai, Lurkers

The Lurkers murni mengamati dan mengkonsumsi. Mereka hanya membuka media sosial dan membaca postingan/status orang lain.

Mereka tahu persis apa yang baru dan semua yang sedang tren dengan mengikuti di media sosial, namun mereka tidak pernah terlibat dengan Anda secara online. 

Sayangnya, Anda tidak pernah tahu kapan wallflower ini telah memeriksa halaman Anda, kecuali untuk tetap memperhatikan jangkauan dan kesan merek Anda.

Ingatlah bahwa Lurkers ada di mana-mana di media sosial, jadi jangan terlalu berkecil hati jika Anda merasa tidak mendapatkan tanggapan seluas yang Anda harapkan. Anda masih menjangkau mereka, mereka tidak akan memberi tahu Anda.

Mayoritas pengguna internet bahkan Lurkers ini. Mereka tidak ingin dikenali.

4. Penyendiri, Loners

The Loners adalah mereka yang menolak memiliki akun media sosial. Meskipun mereka tidak dapat dihubungi melalui media sosial. 

Penyendiri dapat dihubungi dengan cara lain, dan itulah alasan kampanye media sosial Anda harus begitu kuat sehingga "Pemimpin" dan "Penyuka" mendiskusikannya secara offline dengan Penyendiri.

Penyendiri cenderung menerima informasi mereka dari Pemimpin, Likers, dan Lurkers. Kepribadian ini memperluas diri mereka secara offline, artinya Liker akan menemukan cara untuk menyampaikan informasi yang relevan dan berharga kepada teman Penyendiri mereka.

Pengguna Media Sosial

Setiap orang yang menggunakan media sosial mengembangkan kepribadian media sosial. Kepribadian ini merupakan cerminan dari bagaimana Anda ingin orang lain melihat Anda dan juga bagaimana orang lain melihat Anda berdasarkan aktivitas media sosial Anda. 

Setiap orang memiliki baju besi pribadinya masing-masing yang mereka tunjukkan secara online melalui media sosial.

Itu dia tipe atau jenis kepribadian media sosial. Anda termasuk yang mana?

Manajemen Website - Tips Mengelola Desain, Konten, dan SEO Situs Web

Manajemen Website - Tips Mengelola Desain, Konten, dan SEO Situs Web

0 Follow @romel_tea
Manajemen Website - Tips Mengelola Desain, Konten, dan SEO Web

Manajemen Website. Demikian tema yang ditentukan sebuah panitia pelatihan untuk saya presentasikan. Hanya dua kata itu, manajemen dan website. Bahasa Inggrisnya, website management.

Ketika saya tanya secara lisan, maksudnya mau materi apa dengan tema manajemen web ini, panitia menjawab, "Kami ingin diajari cara mengelola website."

Memang demikian, manajemen website artinya mengelola atau mengurus situs web. Saya sering mengisi pelatihan bertema manajemen website, khususnya manajemen konten (isi).

Mari kita bahas "agak serius" pengertian manajemen website atau mengelola situs web ini.

Pengertian manajemen website

Secara praktis, pengertian manajemen website adalah mengelola situs web dari aspek desain, konten, SEO, dan keamanannya.

Menurut Growmodo, pengertian manajemen situs web mencakup pemeliharaan, pembaruan desain, pembaruan konten, serta koneksi dan pengelolaan berbagai solusi pemasaran online untuk memberikan pengalaman situs web yang konsisten dan terlihat profesional.

Manajemen situs web mencakup berbagai aspek berbeda dari situs Anda. Mereka dapat memecahkan masalah hosting, SEO, pengunggahan konten, dan lainnya.

Mengutip Ibexa, manajemen website adalah kumpulan proses yang digunakan untuk memastikan situs web Anda profesional, mutakhir, dan berfungsi sebagaimana mestinya. 

Manajemen website mencakup pemeliharaan umum, keamanan, dan pengembangan situs web jangka panjang, serta mengatur pengiriman konten dan strategi pemasaran Anda.

Pada dasarnya, manajemen situs web melibatkan tugas-tugas berikut:

● Melakukan pemeliharaan
● Menerapkan pembaruan desain
● Merencanakan dan mengirimkan pembaruan konten
● Menerapkan strategi pemasaran
● Menjamin keamanan situs web
● Memberikan dukungan web kepada staf dan pelanggan
● Merencanakan pertumbuhan masa depan di pasar domestik dan internasional
● Mencapai pengalaman pengguna yang konsisten di seluruh saluran
● Memastikan konten dapat digunakan kembali dalam berbagai konteks.

Dengan demikian, manajemen situs web mengacu pada serangkaian praktik dan teknik, bukan sebatas konsep atau "teori". 

Manajemen web menurut Encyclopedia mengacu pada semua aktivitas yang termasuk dalam proses memposting dan memelihara situs web. 

Meskipun banyak individu dan bisnis membuat dan mengelola situs mereka sendiri, sebagian besar situs web dirancang dan dikelola secara profesional oleh perusahaan teknologi; ini karena setiap fase pengembangan situs web membutuhkan keahlian teknis.

Proses Manajemen Website

Proses manajemen web dimulai dengan fase desain. Pada titik ini ditetapkan logo dan warna sesuai dengan citra pemilik web (personal atau lembaga) yang ingin ditampilkan di situs web. 

Selain membuat situs yang mewakili perusahaan dengan baik, desainer grafis harus membuat sistem navigasi yang membuat situs mudah digunakan untuk semua pengunjung web. 

Sistem navigasi mengacu pada rangkaian tautan yang memberi pengguna akses ke subhalaman (halaman selain halaman utama, atau halaman beranda, di situs web; pengguna menampilkan subhalaman di layar komputer dengan mengklik kata dan gambar tertentu di situs) yang berisi informasi yang mereka butuhkan. 

Pada situs web yang dirancang secara ideal, pengguna hanya berjarak satu atau dua klik dari informasi yang mereka butuhkan pada titik tertentu selama kunjungan ke situs web.

Setelah mendesain situs yang sesuai secara visual dan mudah dinavigasi, desainer grafis memberikan mock-up (model visual atau gambar situs baru) kepada programmer, yang menulis kode yang akan menampilkan materi ini di Internet. 

Setelah situs web dirancang dan kode ditulis, situs perlu dihosting di server web dan dipelihara. 

Server web adalah komputer yang menyimpan situs web dan mentransmisikan kode yang menampilkan situs web di layar komputer pengguna akhir. 

Pemeliharaan melibatkan posting kata-kata dan gambar baru di situs web setiap kali perusahaan perlu memperbarui informasi di situs.

Setelah tahap pembuatan atau desain selesai, selanjutnya adalah mengisi website atau manajemen konten. Konten website juga dikelola lagi agar ramah mesin pencari (SEO Friendly) dan ramah pengguna (user friendly), selain memperhatikan juga aspek keamanan website.

Tahapan Manajemen Website

Secara ringkas, dalam pemahaman dan pengalaman saya mengelola website, manajemen web dibagi dalam dua bagian besar: desain (tampilan) dan konten (isi).

Aspek desain dalam manajemen web disebut juga backbone yang meliputi.
  • Nama Domain (Domain Name) --termasuk ekstensi domain .com, .net, .org, .or.id, dll.
  • Nama Website
  • Layout: Header, Sidebar, Footer, Menu
  • Meta Tags
  • SEO
  • Logo
  • Navigasi Menu
Elemen manajemen website juga tergambar dalam ilustrasi berikut ini:

manajemen website

1. Desain Web: Logo dan Warna 

Desain web, sebagaimana disebutkan di atas, dimulai dari logo dan warna yang akan mecitrakan pemilik website, baik web pribadi maupun web lembaga, perusahaan, atau web bisnis.

Biasanya website dibuat setelah pendirian lembaga. Maka, logo dan warna tinggal menyesuaikan. Meski demikian, warna bukan masalah sepele dalam desain web. 

Karena website disajikan dan dipindai di layar perangkat digital (komputer/ponsel pintar), maka warna yang dipilih harus menyejukkan mata, tidak menyilaukan, seperti warna hitam, biru, dan hijau.


2. Nama Domain dan Nama Web

Setelah logo dan warna, tahap berikutnya adalah memilih nama domain (domain name) dan nama website. Nama domain dan hostingnya bisa Anda order di provider domain-hosting seperti Niagahoster.

Nama domain adalah alamat situs web yang diakhiri dengan ekstensi dot com, dot net, dot org, dan sebagainya. 

Contoh nama domain: romelteamedia.com, detik.com, wikipedia.org, republika.co.id, dan sebagainya. Nama domain hendaknya ringkas, mudah diingat, mudah diucapkan.

Nama website bisa sama dengan nama domain. Misalnya, nama domain romelteamedia.com bernama website Romeltea Media; domain detik.com nama websitenya Detikcom. Bisa juga sedikit berbeda, misalnya republika.co.id nama websitenya Republika Online.

Hosting –disebut juga web host-- adalah tempat menyimpan file dan data untuk membangun website.
Domain ibarat alamat rumah dan hosting laksana lahan atau tanah tempat bangunan rumah didirikan.

3. Meta Tags

Di tahap berikutnya, nama domain dan nama website dilengkapi dengan Meta Tags atau tag meta yang terdiri dari:
  1. Title Tag atau tag judul -- nama website 
  2. Description Tag atau tag deskripsi
Tag meta adalah cuplikan teks yang mendeskripsikan konten halaman web. Tag meta tidak muncul di halaman itu sendiri, tetapi hanya di kode (HTML) sumber halaman. 

Tag meta pada dasarnya adalah deskriptor konten kecil yang membantu memberi tahu mesin telusur tentang halaman web.

3. Website Builder

Ini tahapan teknis pembuatan website. Di tahap ini, website bisa dibuat dengan "coding" atau script sendiri, atau menggunakan pembuat web instan yang mudah dan bahkan gratis.

Kita bisa menbuat website di platform blog Blogger milik Google atau website builder seperti Wordpress, Wix, Shopify, dan lainnya.

Bagi saya, desain web paling mudah dan murah (bahkan gratis) adalah dengan menggunakan Blogger dan/atau menggunakan Content Management System (CMS) WordPress. 

Website Builder sepertiWordpress memudahkan developer web dalam layout mulai header, navgasi menu, sidebar, hingga footer, karena tersedia banyak desain web wordpress yang disebut Tema (WP Themes).

Tersedia banyak tema gratis, namun sebaiknya menggunakan Tema WP Premium Terbaik.

4. Konten Web

Website sudah jadi. Proses manajemen website berikutnya adalah mengisinya. Kita sebuh saja manajemen konten web.

Konten yaitu isi website yang terdiri dari dua bagian besar:
  1. Page atau Static Page.
  2. Post.
Page atau halaman adalah konten web statis dalam arti dibuat sekali dan jarang update. Biasanya terdiri dari About (Tentang), Kontak, Disclaimer atau Privacy Policy, dan Redaksi (bagi situs berita).

Post yaitu konten dinamis dan selalu ada yang baru ataupun update, berupa tulisan (artikel/berita), gambar, foto, audio, video, link, grafis, dll.

Konten websitenya hendaknya:
  • Unik
  • Orisinal (asli)
  • Bermanfaat atau Konten Berkualitas
  • Lengkap 
  • Multimedia
  • SEO Friendly 
  • User Friendly 
Konten memainkan peran terpenting dalam manajemen webite. Konten adalah raja (content is king) sekaligus pembeda satu website dengan website lainnya.

Tampilan website bisa sama, sama-sama bagus dan sama-sama kenceng, namun kontenlah yang akan menjadi pembeda dan penentu peringkat di halaman hasil pencarian (SERP).

5. SEO

Manajemen website melibatkan juga pengoptimalan mesin pencari yang disebut SEO. Kita bisa ikuti panduan pengoptimalan mesin telusur dari Google plus SEO Starter Guidenya.

Penerapan SEO dasar dalam manajemen website meliputi:
  1. Pemilihan Meta Tags yang tepat.
  2. Submit URL ke Google Search Console (dulu namanya Webmaser Tools), termasuk Submit Sitemp atau Peta Situs dan Request Indexing.
  3. Share ke media sosial dan WhatsApp.
  4. Penerapan SEO di Artike atau Postingan --seperti link building dan optimasi gambar/image.
Harap diingat, setelah "teknis SEO" dilakukan, fokusnya tetap ke kontan karena SEO terbaik adalah konten berkualitas (quality content).

Secara umum, SEO  website terdiri dari SEO On-Page dan SEO Off-Page:

SEO On-Page dan SEO Off-Page

6. Keamanan Web

Tak kalah penting dalam manajemen website adalah aspek keamanan atau web security. Pengelola web harus melindungi dan mengamankan data situs web dan server agar tidak kena hack atau penyalahgunaan.

Password atau kata sandi yang kuat serta back-up data merupakan bagian penting keamanan web. Anda bisa diskusikan cara mengamanan web dengan provider domain dan hosting Anda.

Demikian ulasan tentang manajemen website atau tips mengelola desain dan konten situs web. 

Lembaga Anda mau pelatihan Manajemen Website? Silakan buka Pelatihan Manajemen Website. Wasalam. (www.romelteamedia.com).*

Pengertian Crony Journalism, Jurnalisme Kroni

Pengertian Crony Journalism, Jurnalisme Kroni

0 Follow @romel_tea
Pengertian Crony Journalism, Jurnalisme Kroni

Pernah mendengar istilah crony journalism atau jurnalisme kroni? Istilah ini memang tidak sepopuler istilah lain dalam jurnalistik, seperti jurnalisme warga, jurnalistik online, atau jurnalisme damai (peace journalism).

Jurnalisme kroni adalah praktik jurnalistik yang mengabaikan berita negatif tentang teman atau sesama wartawan. 

Dalam Glossary of Journalism disebutkan, jurnalisme kroni adalah pelaporan yang mengabaikan atau menganggap enteng berita negatif tentang teman-teman reporter tertentu.

Crony journalism is reporting that ignores or treats lightly negative news about the friends of a particular reporter.

Secara bahasa, crony artinya "teman dekat atau pendamping" (a close friend or companion).

Kata crony sudah diadopsi kedalam bahasa Indonesia, dalam KBBI Daring disebutkan, kroni artinya teman (kawan) dekat.

Jadi, jurnalisme kroni merupakan praktik jurnalistik yang tidak memberitakan hal buruk tentang sesama wartawan. Jika ada teman wartawan terlibat kasus yang merusak nama baiknya, maka wartawan lain mengabaikan hal itu dengan tidak memberitakannya.

Dengan demikian, jurnalisme kroni adalah "jurnalisme solidaritas". 

Jurnalisme kroni dipraktikkan bukan hanya tidak memberitakan hal buruk tentang sesama reporter, tapi pada praktiknya wartawan memang umumnya menghindarii pemberitaan yang merusak citra semua teman dekat, keluarga, tetangga, dsb.

Salahkah praktik jurnalisme kroni? Bukan soal benar-salah. Ini soal independensi pers atau kebebasan wartawan dalam memilih isu pemberitaan.

Pers, media, atau wartawan itu independen. Ia bisa berpihak kepada kelompok tertentu --dan ini artinya menjadi jurnalis partisan. Fakta di lapangan memang begitu. 

Wartawan "dikendalikan" oleh kebijakan redaksi (editorial policy), pemodal atau pemilik, pemerintah atau penguasa, dan sering juga tunduk pada pemasang iklan.

Itu dia pengertian crony journalism atau jurnalisme kroni. Sekadar menambah wawasan tentang jurnalistik dan media massa.*