Menulis

Nasib Media Cetak Kian Mengenaskan

Posted by Romel Tea ● Follow @romeltea ● Like Romeltea Media on Facebook

Nasib media cetak (suratkabar) kian mengenaskan. Koran terbaru yang tutup di Inggris justru baru terbit beberapa pekan.

Harian The New Day Inggris
Harian The New Day Inggris Tutup Setelah Terbit Beberapa Pekan. (Foto: Reuters/VOA Indonesia).*
 

SURATKABAR Inggris Tutup Setelah Terbit Selama 10 Pekan. Demikian VOA Indonesia mengabarkan pagi ini, Jumat 6 Mei 2016.

Disebutkan, koran harian The New Day, media Inggris yang diluncurkan 29 Februari 2016 sebagai surat kabar harian nasional pertama negara itu dalam 30 tahun, Kamis (5/5/2016) mengumumkan edisi terakhirnya terbit Jumat 6 Mei 2016.

Suratkabar ini bertekad akan membuktikan media cetak dapat bertahan pada era internet ini. Namun, ternyata penerbitan The New Day memperkuat prediksi dan menambah fakta media cetak sulit bertahan di era digital ini dengan  mengumumkan penutupan operasinya, hanya beberapa pekan setelah penerbitan perdananya.

The Trinity Mirror Group, sang surat kabar itu, menyatakan, kinerja The New Day “mengecewakan” dan dalam 10 pekan ini sirkulasinya gagal memenuhi harapan.

Penjualan ditarget 200 ribu eksemplar per hari, tetapi tidak lama setelah diluncurkan, sirkulasinya turun hingga 30 ribu eksemplar per hari.

The Trinity Mirror Group menyatakan harga sahamnya merosot hingga tingkat terendah dalam tiga tahun ini pada hari Rabu.

Kabar penutupan The New Day bukan hal mengejutkan. Sebelumnya, kita juga mendapatkan kabar, edisi cetak harian The Independent Inggris juga berhenti terbit Maret 2016. Media tersebut kini hanya hadir dalam versi online.

Dilansir kompas.com, selain menghentikan penerbitan edisi cetak, perusahaan yang menaungi The Independent, ESI Media, menyatakan ada pemangkasan karyawan. Namun, ESI Media menawarkan 25 pekerjaan baru di bidang konten digital.

"Keputusan ini untuk mempertahankan brand The Independent dan memungkinkan kami untuk terus berinvestasi di konten editorial berkualitas tinggi yang menarik lebih banyak pembaca ke platform online kami," kata pemilik ESI Media, Evgeny Lebedev.

Edisi cetak The Independent terbit terakhir Sabtu 26 Maret 2016. Edisi terakhir Independent on Sunday terbit pada 20 Maret 2016.

The Independent didirikan 1986. Angka sirkulasi per Desember 2015 menunjukkan rata-rata oplah per hari hanya mencapai 56.074 eksemplar.

Di Inggris, perbincangan soal "senja kala" media cetak sudah lama bergulir terkait pesatnya industri konten digital.

Sebelumnya, seperti saya sitir di posting Masa Depan Media Cetak Kian Suram, sejumlah media cetak di Indonesia juga berhenti terbit. Harian Sinar Harapan berhentu terbit per 1 Januari 2016, menyusul edisi cetak Jakarta Globe, Koran Tempo Minggu, dan Harian Bola yang juga berhenti terbit.

Nasib yang menimpa The New Day, Independent, dan sederet media cetak tersebut kemungkinan juga menimpa media cetak lainnya --semoga tidak.

Kehadiran media online plus media sosial dan aplikasi mobile membuat masa depan media cetak kian suram. Kini hanya sebagian kecil media cetak (koran) yang masih akan esksis. Sebagian besar ambruk.

Bukan hanya medianya, SDM-nya juga bermasa depan suram, bahkan bisa dikatakan "tidak punya masa depan", khususnya profesi reporter media cetak dan fotografer.

Sebuah survei yang dikutip CNBC menyebutkan, wartawan media cetak (Newspaper Reporter) menempati posisi terbawah (urutan 200) dalam daftar pekerjaan terbaik 2015 dan menjadi pekerjaan terburuk jika peringkatnya diurut dari bawah.

Apakah dengan demikian media online kini berjaya? Tunggu dulu! Fenomena terbaru menunjukkan, masa depan media online (situs berita) ternyata juga mulai suram. Saya sudah tulis di Masa Depan Media Online Mulai Suram.

Selain karena kalah bersaing dengan media sosial, terutama Facebook dan Twitter, plus dengan Google dalam persaingan iklan, situs berita atau news portal kini digempur jurnalisme warga yang memanfaatkan media sosial.

Baca Juga: Jurnalistik Masa Depan Milik Jurnalisme Warga.

Survei yang dilansir di laman Inside ID menyebutkan media online seperti internet, media sosial, dan koran atau majalah elektronik menjadi sumber berita teratas yang digemari oleh masyarakat saat ini.

Koran (media cetak) masih bisa bertahan karena sebuah tradisi pria berupa minum kopi sambil baca koran di pagi hari.

Riset Inside.ID menyatakan, hanya dua dari 10 orang di Indonesia yang masih baca koran. Lebih dari 92% responden menjadikan internet sebagai sumber informasi.


media sumber berita
Internet, media sosial, dan koran elektronik menjadi sumber berita teratas. (Sumber: Inside.ID)

Jelas, masa depan media cetak kian suram --mengenaskansuram. Kejayaan media cetak memang sudah jatuh dilindas kemajuan teknologi internet dengan kehadiran media online, media sosial, jurnalisme warga, dan jurnalisme media sosial.

Namun, seperti prediksi Manifesto Internet tujuh tahun lalu, internet adalah kerajaan media ukuran saku. "The Internet is a pocket-sized media empire," demikian poin kedua Manifesto Internet - How Journalism Work Today.
 
Kini prediksi itu menjadi kenyataan. Orang-orang kini menggenggam informasi apa pun di tangannya --mengakses informasi di internet melalui mobile (HP/SmartPhone). Wasalam. (www.romelteamedia.com).*

Author:

I am a Blogger, Media Practisioner, and Practical Communication Trainer. I share my own knowledges, experiences, and skills about practical communication - writing, speaking, blogging - and my hobbies and concerns. Visit my official website Romeltea.

Previous
« Prev Post
0 Komentar untuk "Nasib Media Cetak Kian Mengenaskan"

You comment, I'll visit back your blog. If you have one. Komentar SPAM dan LINK AKTIF tidak akan muncul.