Jurnalistik: Pengertian dan Ruang Lingkup - Romeltea Media

Jurnalistik: Pengertian dan Ruang Lingkup

Romel Tea   Follow @romel_tea   Like RomelteaMedia on Facebook

Ruang Lingkup Jurnalistik
Pengertian Jurnalistik, Jurnalisme, dan Ruang Lingkupnya.

APA yang terbayang di benak Anda ketika mendengar atau membaca kata jurnalistik atau jurnalisme?

Itu pertanyaan yang biasa saya ajukan dalam pelatihan jurnalistik.

Jawaban peserta biasanya beragam lalu --jawaban yang "benar"-- saya simpulkan sebagai ruang lingkup jurnalistik.

Satu peserta menjawab "berita". Lainnya menjawab "media", "koran", "menulis", "wartawan", "fotografer", "reporter", "informasi".

Saya simpulkan: itulah pengertian dan ruang lingkup jurnalistik. Artinya, jurnalistik meliputi semua jawaban tersebut.

Pengertian Jurnalistik

Pengertian Jurnalistik
Jurnalistik adalah proses, teknik, dan ilmu tentang pengumpulan, penulisan, penyuntingan, dan publikasi berita (news collecting, writing, editing, and publishing) di media massa.

Journalism is the discipline of gathering, writing and reporting news, and broadly it includes the process of editing and presenting the news articles. Journalism applies to various media, but is not limited to newspapers, magazines, radio, and television. (Wikiquote).

Pengumpulan (collecting) artinya pengumpulan bahan berita.

Disebut juga news gathering dan news hunting --berburu bahan berita, dengan teknik reportase (liputan jurnalistik) berupa observasi, wawancara, dan riset data.

Penulisan (writing) yaitu menulis berita (news), juga artikel opini (views) dan feature.

Penyuntingan (editing) artinya mengedit, merevisi, memperbaiki, dan mengecek akurasi data/fakta dan tata bahasa (bahasa jurnalistik/bahasa media).

Publikasi artinya menyebarluaskan berita tersebut kepada publik melalui media komunikasi massa (media massa) yang meliputi:

1. Media Cetak --Suratkabar, Majalah, Tabloid
2. Media Elektronik --Radio, Televisi, Film.
3. Media Siber --Media Online/Media Daring, media yang tersaji secara online di internet.

Reportase merupakan aktivitas utama jurnalistik. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), reportase adalah pemberitaan, pelaporan, atau laporan kejadian (berdasarkan pengamatan atau sumber tulisan).

Asal-Usul Istilah Jurnalistik

Berbagai literatur tentang jurnalistik, misalnya di laman Wikiquote, menyebutkan, kata atau istilah jurnalistik (Inggris: journalism) berasal dari bahasa Latin, diurnal atau daily, yang diadopsi kedalam bahasa Perancis, journal, yang artinya catatan harian.

Kata diurnal sendiri berasal dari Acta Diurna, yaitu media publikasi jurnalistik yang disebut sebagai media massa atau koran pertama di dunia (the world's first newspaper) adalah  buletin tulis tangan (handwritten bulletin) pada masa Romawi kuno.

Dalam bahasa Inggris, journal artinya laporan. Kamus Bahasa Inggris mengartikan journal sebagai majalah, suratkabar, dan buku/ catatan harian (diary).

Dari kata journal itulah kemudian muncul istilah journalistic, journalism,  dan pelakunya disebut journalist  (wartawan, juruwarta).

Jurnalistik: Proses, Teknik, Ilmu

Secara konseptual, jurnalistik dapat dipahami dari tiga sudut pandang, yakni sebagai proses, teknik, dan disiplin ilmu.
  1. Sebagai proses, jurnalistik adalah aktivitas mencari, mengolah, menulis, dan menyebarluaskan informasi kepada publik melalui media massa.
  2. Sebagai teknik, jurnalistik adalah keahlian (expertise) atau keterampilan (skills) menulis karya jurnalistik (berita, artikel, feature) termasuk keahlian dalam pengumpulan bahan penulisan seperti peliputan peristiwa (reportase) dan wawancara.
  3. Sebagai ilmu, jurnalistik adalah bidang kajian mengenai pembuatan dan penyebarluasan informasi (peristiwa, opini, pemikiran, ide) melalui media massa. 

Jurnalistik termasuk ilmu terapan (applied science) yang dinamis dan terus berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dan dinamika masyarakat itu sendiri.
    Jurnalistik yang awalnya identik dengan media cetak (suratkabar), saat media radio muncul, lahir pula jurnalistik radio (radio journalism). Saat televisi lahir, muncul pula jurnalistik televisi. Saat internet lahir, muncul pula jurnalistik online. 

    Definisi Jurnalistik menurut Para Ahli/Akademisi

    Jurnalistik adalah kegiatan menyiapkan, mencari, mengumpulkan, mengolah, menyajikan, dan menyebarkan berita melalui media berkala kepada khalayak seluas-luasnya dengan secepat-cepatnya (Adinegoro).

    Jurnalistik adalah suatu seni atau keterampilan mencari, mengumpulkan, mengolah, menyusun, serta menyajikan berita tentang suatu peristiwa yang terjadi sehari-hari secara indah, dalam rangka memenuhi segala kebutuhan hati nurani khalayaknya (Onong Uchjana Effendi).

    Jurnalistik adalah kepandaian karang-mengarang yang pokoknya untuk memberi pekabaran pada masyarakat dengan selekas-lekasnya agar tersiar kabar seluas-luasnya (Kustadi Suhandang).

    Jurnalistik adalah uatu kepandaian praktis dalam mengumpulkan dan untuk selanjutnya mengedit berita untuk dijadikan pemberitaan dalam surat kabar, majalah, atau terbitan-terbitan berkala lainnya. Selain bersifat ketrampilan praktis, jurnalistik juga merupakan seni (A.W. Widjaya).

    Jurnalistik adalah egiatan penyiapan, penulisan, penyuntingan, dan penyampaian berita kepada khalayak melalui saluran media tertentu. Jurnalistik mencakup kegiatan dari peliputan sampai kepada penyebarannya kepada masyarakat (M. Ridwan).

    “Laporan tentang kejadian-kejadian yang sedang berlangsung pada saat ditulis, bukan kabar yang sudah definitif tentang suatu keadaan” (Erik Hodgins)

    “Pengumpulan, penulisan, penafsiran, pemrosesan, dan penyebaran informasi umum, pendapat pemerhati, hiburan umum secara sistematis dan dapat dipercaya untuk diterbitkan pada surat kabar, majalah, dan disiarkan di stasiun siaran” (Edwin Emery).

    “Journalism ambraces all the forms in which and trough wich the news and moment on the news reach the public (Jurnalistik adalah segala bentuk yang membuat berita dan ulasan mengenai berita sampai pada kelompok pemerhati)” (Roland E. Wolseley).

    Perbedaan Jurnalistik dan Pers

    Jurnalistik dan Pers
    Jurnalistik tidak dapat dipisahkan dari pers. Perbedaan prinsipilnya, jurnalistik adalah bentuk komunikasinya dan pers merupakan medium jurnalistik itu disalurkan (M.O. Palapah).

    Pers dan jurnalistik ibarat jiwa dan raga. Jurnalistik adalah aspek jiwa karena ia bersifat abstrak, merupakan kegiatan, daya hidup, menghidupi aspek pers. Sedangkan Pers adalah aspek raga, karena ia berwujud, konkret, nyata, karenanya, ia dapat diberi nama.

    Dengan demikian, maka pers dan jurnalistik merupakan dwitunggal. Pers tidak mungkin beroperasi tanpa jurnalistik, sebaliknya jurnalistik tidak akan mungkin mewujudkan suatu karya bernama berita tanpa peran pers di dalamnya.

    Tetapi pers yang dimaksud di sini adalah pers dalam arti sempit, yakni surat kabar atau media cetak, termasuk di dalamnya, majalah, buletin, dan tabloid. Hal ini selaras dengan pengertiannya secara etimologis, yakni “pers” (Belanda), “press” (Inggris) yang berasal dari bahasa latin “pressare” dari kata “premere” yang berarti “tekan”.

    Pers dari sudut pandang terminologis mengandung arti “media massa cetak”, dalam bahasa Belandanya “drukpers” atau “pers”. Sedangkan bahasa Inggris menyebutnya “printed media” atau “printing media” atau “press”.

    Jurnalistik dan Komunikasi Massa

    Jurnalistik dalam konteks ilmu komunikasi mendorong munculnya disiplin ilmu komunikasi massa (mass communications), yaknik ilmu atau teknik komunikasi melalui media.

    Hal itu bermula dengan munculnya sekolah jurnalistik (School of Journalism) di Amerika Serikat  yang didirikan tokoh pers dunia asal Amerika Serikat, Joseph Pulitzer, tahun 1903, dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan para wartawan kala itu.

    Lembaga jurnalistik gagasan Pulitzer mendapat dukungan dari Rektor Harvard University, Murray Buttler, karena ternyata jurnalisme tidak hanya mempelajari dan meneliti hal-hal yang bersangkutan dengan persuratkabaran semata, melainkan juga media lainnya, seperti radio dan televisi.

    Selain menyiarkan pemberitaan melalui radio dan televisi, juga menyiarkan produk-produk siaran lainnya. Atas kenyataan tersebut, maka jurnalisme berkembang menjadi komunikasi massa.

    Dalam literatur komunikasi, dikenal pengertian komunikasi menurut Harold Lasswell: ”Who says what in which channel to whom with what effect — Siapa, mengatakan apa, melalui media apa, kepada siapa, dengan efek yang bagaimana”.

    Berdasarkan paradigma Lasswell tersebut, komunikasi jurnalistik bisa diartikan sebagai ”proses penyampaian pesan oleh komunikator (wartawan) kepada komunikan (publik) melalui media untuk menimbulkan efek tertentu”.

    Ruang Lingkup Jurnalistik

    Produk Jurnalistik
    Produk jurnalistik yaitu informasi yang dihasilkan dari proses jurnalistik. Produk jurnalistik terdiri dari:
    1. News. Berita.
    2. Views. Pandangan atau Opini.
    3. Features. Paduan berita dan opini.

    Berita merupakan produk utama jurnalistik. Berita adalah laporan peristiwa terbaru. Jenis-jenis berita antara lain sebagai berikut:
    • Berita Langsung (Staight News)
    • Berita Mendalam (Depth News)
    • Berita Investigasi (Investigative News)
    • Berita Opini (Opinion News).

    Opini adalah tulisan berisi pendapat, analisis, atau ulasan tentang suatu masalah atau peristiwa. Jenis-jenis opini di media massa antara lain:
    • Artikel
    • Editorial (Tajuk/Tajukrencana, Opini Redaksi)
    • Kolom (Opini Pakar/Ahli) 
    • Pojok
    • Karikatur

    Feature (baca: ficer) adalah karangan khas yang berisi fakta, data, dan interpretasi penulisnya dengan menggunakan gaya bahasa sastra. Feature itu semacam cerita pendek (cerpen) namun kisahnya benar terjadi (faktual).

    Jenis-jenis feature antara lain:
    • Feature Biografi
    • Feature Perjalanan
    • Feature Sejarah
    • Feature Human Interest
    • Feature Tips (How to Do It Features)

    Baca: Feature Tulisan yang Tetap Aktual

    Media Jurnalistik 

    Media jurnalistik adalah saluran atau sarana publikasi karya jurnalistik. Media jurnalistik disebut juga media massa atau pers.

    Jenis-jenis media jurnalistik atau media massa terdiri dari:
    1. Media cetak (printed media) --suratkabar/koran, majalah, tabloid.
    2. Media elektronik (electronik media) --radio, televisi, fiml
    3. Media siber (cyber media) --media online/media internet.

    Elemen Jurnalistik

    Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam The Elements of Journalism merumuskan sembilan elemen jurnalistik (jurnalisme) yang diperoleh setelah Committee of Concerned Journalists mengadakan banyak diskusi dan wawancara dengan 1.200 wartawan dalam periode tiga tahun.

    Sembilan Elemen Jurnalistik ini menjadi landasan wartawan dalam menjalankan tugas kejurnalistikannya:

    1. Kewajiban utama jurnalisme adalah pada pencarian kebenaran
    2. Loyalitas utama jurnalisme adalah pada warga negara
    3. Esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi.
    4. Jurnalis harus menjaga independensi dari objek liputannya (narasumber).
    5. Jurnalis harus membuat dirinya sebagai pemantau independen dari kekuasaan
    6. Jurnalis harus memberi forum bagi publik untuk saling kritik dan menemukan kompromi
    7. Jurnalis harus berusaha membuat hal penting menjadi menarik dan relevan
    8. Jurnalis harus membuat berita yang komprehensif dan proporsional
    9. Jurnalis harus diperbolehkan mendengarkan hati nurani personalnya

    Bahasa Jurnalistik

    Bahasa jurnalistik --disebut juga bahasa media atau bahasa pers-- adalah gaya bahasa yang digunakan oleh wartawan (jurnalis) dalam menulis karya-karya jurnalistik di media massa (Rosihwan Anwar, 1991).

    Dalam bahasa Inggris, bahasa jurnalistik disebut juga bahasa suratkabar (newspaper language).

    Karena keterbatasan ruang (kolom) dan waktu (durasi), bahasa jurnalistik memiliki sifat yang khas atau karakteristik utama: ringkas, lugas, sederhana, dan mudah dipahami. 
    • Sederhana -- memilih kata atau kalimat yang paling banyak diketahui maknanya oleh khalayak pembaca yang sangat heterogen.
    • Ringkas -- hemat kata (economy of words), langsung kepada pokok masalah (straight to the point), tidak bertele- tele.
    • Lugas -- tidak berkamakna ganda (ambigu), menghindari eufemisme atau penghalusan kata dan kalimat yang bias membingungkan.
    • Sederhana -- menghindari kata dan istilah asing, artinya pembaca harus mengetahui makna setiap kata yang dibaca dan didengar.

    Kode Etik Jurnalistik

    Sebagai pekerja profesional, wartawan (jurnalis) memerlukan landasan moral dan etika profesi sebagai pedoman operasional dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas serta profesionalisme.

    Wartawan menetapkan dan harus menaati Kode Etik Jurnalistik yang merupakan kode etik profesi wartawan.

    Menurut Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) kode etik jurnalistik menjaga martabat atau kehormatan profesi wartawan. Pelanggaran terhadap kode etik jurnalistik adalah pelanggaran terhadap nilai nilai kehormatan profesinya sendiri.

    Demikian ulasan ringkas mengenaik pengertian jurnalistik dan ruang lingkupnya. Wasalam. (www.romelteamedia.com).*

    Related Posts

    Author:

    I am a Blogger, Media Practisioner, and Practical Communication Trainer. I share my own knowledges, experiences, and skills about practical communication - writing, speaking, blogging - and my hobbies and concerns. Visit my official website Romeltea.

    0 Komentar untuk "Jurnalistik: Pengertian dan Ruang Lingkup"

    You comment, I'll visit back your blog. If you have one. Komentar SPAM dan LINK AKTIF tidak akan muncul.