Blog Santri: Warisan Budaya Menulis Ulama, Dakwah, dan Blogpreneur - Romeltea Media

Blog Santri: Warisan Budaya Menulis Ulama, Dakwah, dan Blogpreneur

Romel Tea   Follow @romel_tea   Like RomelteaMedia on Facebook

Blog Santri: Warisan Budaya Menulis Ulama, Dakwah, dan Blogpreneur
Makna blogging bagi santri: mewarisi budaya menulis ulama, dakwah bil qolam, dan... blogpreneur!

SAYA sudah menulis dua posting tentang blog dan santri, yaitu Gerakan Santri Menulis dan Blog sebagai Media Dakwah.

Tulisan pertama mengulas Gerakan Santri Menulis yang digagas sebuah media. Tulisan kedua berupa "draft" makalah saya saat diundang sebuah pesantren modern di Kuningan untuk bicara soal blogging kaitannya dengan dakwah.

Posting ini "merangkum" kedua tulisan tersebut dengan judul baru "Blog dan Santri". Intinya sih, para santri sebaiknya diberi kesempatan dan didorong ngeblog (blogging) untuk ekspresi diri secara Islami dan dakwah melalui tulisan (da'wah bil qolam).

Belum lama ini ada keluhan tentang "ustadz media sosial", yaitu fenomena orang bicara agama di media sosial atau di internet, padahal ilmu agamanya minim.

Nah, jika santri yang bicara atau menulis agama, memang sudah bidangnya. Para santri 'kan memang sehari-harinya belajar dan mendalami ilmu agama (Islam) dengan bimbingan para ulama, kyai, atau ustadz di pesantrennya.

Lagi pula, jika santri yang bicara agama, maka akan dibimbing dan/atau dikoreksi ulam ustadz atau kyaianya, jika ada yang keliru atau kurang tepat.

Gerakan Santri Menulis

Saya baru tahu ada Gerakan Santri Menulis dua tahun lalu, saat membaca berita Gerakan Santri Menulis Datang, Para Santri Senang.

Muncul pertanyaan, di mana kita bisa membaca tulisan para santri itu? Belum ada jawaban.

Saya yakin, tulisan mereka "bergizi". Secara, sehari-hari 'kan para santri itu "menyantap" ilmu agama (Islam) dari kitab-kitab kuning dan diajarkan langsung oleh para ahli (ulama/kyai).

Kita berharap, para santri itu "keep writing" menyebarkan ilmu agama, menjadi jurnalis Muslim yang memerankan muaddib (pendidik Islami), musaddid (pelurus info Islam), muwahid (pemersatu umat), mujaddid (pembaharu atau "corong" pembaharuan pemahaman Islam), dan mujahid (pejuang Islam di medan perang informasi/media).

Saya berharap pemateri Gerakan Santri Menulis tidak hanya membekali para santri dengan teknik menulis, tapi juga mengajarkan BLOGGING sebagai sarana terbaik dan termudah saat ini untuk mengasah keterampilan menulis.

Para santri tidak hanya mengandalkan media-media mainstream ataupun media internal pesantren untuk menyebarluaskan karya tulisnya, tapi juga publikasi tulisannya di blog pribadi mereka dan di blog atau situs web pesantrennya.

Bayangkan, betapa "ramai" ilmu-ilmu Islam dari dunia pesantren "berseliweran" di jagat maya (internet) dan/atau blogosphere (personal websites and blogs collectively).

Santri, Blog, dan Dakwah

Menulis adalah warisan para ulama salaf yang terlupakan. Bukankah kitab-kitab kuning yang dikaji para santri di pesantren itu ada karena para ulama dulu suka menulis?

Bukankah Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Arba'in Nawawi, Safinatun Naja', Jurumiyah, Riyadhush Shalihin, Fiqhud Da'wah, Fiqhus Sunnah, Alfiyah, Ta'limul Muta'allim, dan banyak lagi kitab itu merupakah produk menulis para ulama dulu?

Gerakan Santri Menulis, saya harap, meluas ke semua kalangan santri, guna meneruskan atau mewarisi tradisi menulis para ulama. Menulis itu akan membuat ilmu jadi "abadi", demikian juga penulisnya.

Menulis itu mengingat ilmu. Nabi Muhammad Saw juga memerintahkan kaum Muslim "qayyidul 'ilma bil kitabah" (ikatlah ilmu dengan tulisan). Banyak sekali manfaat menulis: sedekah ilmu, amal jariyah, dakwah, menebar inspirasi, motivasi, dll.

Saat ini, di era internet, sarana terbaik mengasah keterampilan menulis adalah blogging. Sangat sering disebutkan, salah satu manfaat blogging adalah "be better writer" (menjadi penulis yang lebih baik).

Untuk santri, blog sekaligus menjadi sarana dakwah. Konten blog Islam atau blog dakwah santri, lulusan pesantren, atau ustadz, tentu akan lebih kredibel atau dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan. Secara, mereka memang ahlinya (ahli ilmu agama).

Internet menjadi sumber informasi utama saat ini. Orang ingin tahu apa saja, mencari apa saja, lewat internet atau Google. Sebuah survei menunjukkan, kebanyakan orang membuka internet untuk mendapatkan informasi, bahkan sebelum belanja ke pasar atau mall.

Sebuah hasil survei menunjukkan mayoritas (94%) orang mengandalkan internet sebagai sumber informasi. TV dan media sosial ada di posisi dua (82%) dan tiga (81%).

Citra Islam yang "babak-belur" di internet akan menjadi citra Islam di masyarakat dunia. Inilah tantangan para santri, ustadz, dan/atau ulama untuk menunjukkan Islam sebenarnya di internet --dengan blogging.

Blogpreneur

Selain untuk berlatih menulis sekaligus mewarisi budaya menulis para ulama dan dakwah, blogging bagi santri juga bisa menjadi sarana wirausaha, dalam hal ini wirausahwan online atau bisnis online, yakni dengan menjadi BLOGPRENEUR.

Saat ini, blogging is business. Ngeblog bisa menghasilkan uang. Banyak sekali tips menghasilkan uang dari blog, terutama dengan program Google AdSense, toko online, dan bisnis afiliasi (affiliate marketing). Blog juga bisa "disulap" menjadi toko online, juga promosi jasa/produk.

Tahun ini saya terlibat dalam sebuah program gerakan santri menulis yang diselenggarakan Mandiri Amal Insani (MAI). Materi yang diamanahkan kepada saya adalah menulis jurnalistik dan blogging. Insya Allah.Wasalam. (www.romelteamedia.com).*

Related Posts

Author:

I am a Blogger, Media Practisioner, and Practical Communication Trainer. I share my own knowledges, experiences, and skills about practical communication - writing, speaking, blogging - and my hobbies and concerns. Visit my official website Romeltea.

0 Komentar untuk "Blog Santri: Warisan Budaya Menulis Ulama, Dakwah, dan Blogpreneur"

You comment, I'll visit back your blog. If you have one. Komentar SPAM dan LINK AKTIF tidak akan muncul.