Etika Jurnalisme Kini Lebih Penting dari Sebelumnya

Follow @romel_tea
Kode Etik Jurnalistik kian terasa pentingnya di era digital. Etika jurnalisme lebih penting dari masa sebelumnya. Etika jurnalisme inilah yang membedakan jurnalis profesional dengan jurnalisme warganet atau netizen journalism di media sosial.

Etika Jurnalisme Lebih Penting dari Sebelumnya

INTERNET mengubah format dan media jurnalistik. Media massa sebagai saluran publikasi karya jurnalistik atau pers pun tidak lagi memonopoli atau mendominasi pemberitaan dan penyebarluasan informasi. 

Content creator --blogger, vlogger, podcaster-- dan pengguna media sosial (warganet/netizen) pun kini memproduksi dan publikasi informasi --layaknya wartawan. Seringkali peristiwa penting "diliput" duluan oleh warganet. Wartawan belakangan.

Lalu, bagaimana jurnalis dan jurnalistik bisa bertahan di era internet atau era medi sosial ini? Bagaimana wartawan atau pers membedakan dirinya dengan jurnalis warganet (netizen journalist) di media sosial?

Pembeda utama wartawan dan warganet adalah kode etik. Cara kerja, format, dan media jurnalistik bisa berubah. Namun, yang tidak boleh berubah dalam jurnalisme adalah kode etik.

Etika jurnalisme ini merupakan kunci bagi jurnalis atau media massa untuk tetap menjaga kepercayaan publik. Kode etik ini juga menjadi pembeda utama jurnalisme profesional dengan jurnalisme warga yang kini marak di internet (netizen journalism).

Karenanya, kode etik kian penting dari era sebelumnya. Wartawan atau insan media harus refreshing dan upgrading pemahaman dan kepatuhan pada kode etik jurnalistik --baik wartawan media cetak, jurnalis media penyiaran, maupun wartawan media online.

Apa itu kode etik jurnalistik?

Kode etik jurnalistik adalah etika profesi wartawan. Ciri utama wartawan profesional yaitu menaati kode etik, sebagaimana halnya dokter, pengacara, dan kaum profesional lain yang memiliki dan menaati kode etik.

Etika profesi bertujuan untuk meningkatkan keterampilan intelek dalam berpikir dan juga membuat para profesional dapat bertindak dengan cara yang diinginkan secara moral untuk menuju komitmen moral dan perilaku bertanggung jawab.

Memeriksa fakta secara cermat atau akurasi, memiliki sumber pertama, memeriksa tata bahasa, tanda baca dan ejaan, serta validasi materi pemberitaan adalah semua etika utama dalam jurnalisme yang tidak boleh diabaikan.

Wartawan kadang-kadang terburu-buru untuk mengeluarkan cerita mereka terlebih dahulu, menulis dan memposting berita yang dapat mengakibatkan etika diabaikan.

Jurnalisme digital atau jurnalistik online, yang sebagian terdiri dari blog online, pembaruan berita instan, umpan langsung, dan diskusi telah mengaburkan batas antara jurnalisme etis dan tidak etis, membuat konsumen tidak puas dan skeptis.

Konsumen berita sekarang perlu menggunakan pemikiran kritis untuk membandingkan sumber yang kredibel dan mencengangkan.

Seperti yang dicatat oleh kolumnis Linda Bowles, “Sayangnya, media mengalami kesulitan membedakan antara sains nyata dan propaganda yang disamarkan sebagai sains.”

Kemungkinan dunia memiliki Internet di ujung jarinya, membuka jalan bagi setiap individu untuk dapat menulis artikel dan mempostingnya di website.

Penggunaan Internet secara massal telah mendistorsi definisi jurnalisme. Di dunia seperti itu, etika sama pentingnya.

Era digital memengaruhi jurnalis

Untuk menyederhanakan mengapa etika jurnalisme begitu penting, mari kita lihat perbandingannya: otot manusia.

Saat tidak berolahraga atau hanya digunakan, otot manusia menjadi lemah, kurang terlihat dan malas. Namun, ketika berolahraga, otot manusia tumbuh, menjadi kuat dan jauh lebih menonjol dan terlihat. 

Ketika melihat jurnalisme yang tidak etis, artikel biasanya lemah, karena tidak memiliki bukti, informasi, tata bahasa, dan fakta yang benar. Mereka ada, tetapi tidak begitu terlihat oleh konsumen.

Jurnalisme etis memerlukan informasi faktual, bukti kuat, opini dari semua pihak yang terlibat, informasi objektif dijauhkan dari subjektivitas dan tata bahasa, ejaan, dan tanda baca yang luar biasa. 

Jurnalisme etis, seperti halnya otot yang terlatih, memiliki konten yang kuat, tahan lama, dan tidak luput dari perhatian.

Konsumen begitu kewalahan dengan konten tidak etis yang disediakan oleh internet sehingga mereka mendambakan karya faktual yang bagus.

Mengapa jurnalisme etis itu penting?

Seorang jurnalis memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat untuk memberikan informasi yang jujur, seimbang, faktual, dan "objektif" sambil menghindari konflik kepentingan dan mempertimbangkan privasi masyarakat. 

Dengan kekuatan pena dalam pemberitaan yang bisa menyentuh pada pengungkapan kekurangan orang lain, muncul tanggung jawab yang melekat untuk bertindak jujur ​​dan etis.

Wartawan memiliki kekuatan untuk memengaruhi apa yang diyakini dan seharusnya diyakini oleh masyarakat, sebagai hasilnya memberikan informasi yang objektif yang memungkinkan masyarakat untuk menafsirkan apa yang dikatakan dan dilakukan dengan menggunakan kebijaksanaan mereka sendiri.

Konsumen atau publik berhak atas informasi yang benar dan faktual. Tanpa ini profesi jurnalistik tidak akan ada. 

“Wartawan yang sering mengemban tugas tanpa pamrih dalam mengembangkan pedoman harus mengabaikan para skeptis dan melanjutkan penemuan kembali etika jurnalisme yang luar biasa ini. Masa depan jurnalisme yang bertanggung jawab bergantung padanya,” tulis Stephen Ward, direktur pendiri Center for Journalism Ethics.

Faktor terkecil dapat menentukan apakah seorang jurnalis itu etis atau tidak etis. Memeriksa ulang fakta, memiliki sumber tangan pertama, memeriksa tata bahasa, tanda baca dan ejaan, serta memvalidasi materi adalah semua etika utama jurnalistik yang tidak boleh diabaikan.

Wartawan kadang-kadang bisa terburu-buru untuk mengeluarkan cerita mereka terlebih dahulu, yang dapat mengakibatkan etika diabaikan. Namun, menjadi yang pertama dan yang salah tidaklah ideal. 

Lebih Penting dari sebelumnya

Wartawan tidak suka menjadi bagian dari cerita. Mereka lebih suka mengamati, meneliti fakta, dan melakukan wawancara untuk melaporkan berita.

Tetapi terkadang wartawan harus melangkah maju dan berbicara tentang pekerjaan yang mereka lakukan dan bagaimana mereka melakukannya.

Di Amerika Serikat, Masyarakat Jurnalis Profesional (Society of Professional Journalist, SPJ) menggelar "Pekan Etika" (Ethics Week) tiap tahun. 

Hampir setiap tahun, Pekan Etika berlalu tanpa pemberitahuan. Biasanya ada seminar dan lokakarya bagi jurnalis untuk memperkuat standar etika dan membahas hal-hal barumasalah etika yang menuntut diskusi.

Tahun ini berbeda. Hari demi hari, beberapa pemimpin politik mengacaukan pelaporan yang tidak nyaman dan tidak menyenangkan sebagai berita palsu. Pembaca harus memilah-milah cerita yang saling bertentangan yang ditemukan di media sosial untuk menentukan apa yang harus dipercaya.

Etika jurnalisme telah berkembang dari waktu ke waktu menjadi seperangkat standar untuk memastikan pelaporan yang adil dan dapat dipercaya. 

SPJ juga menyusun kode etik bagi para anggotanya. Intinya tidak jauh berbeda dengan kode etik jurnalistik di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Kode etik jurnalistik itu antara lain:

1. Carilah Kebenaran dan Laporkan

Jurnalisme etis harus akurat dan adil. Wartawan harus jujur ​​dan berani mengumpulkan, melaporkan, dan menafsirkan informasi.

Wartawan harus bertanggung jawab atas keakuratan pemberitaan. Verifikasi informasi sebelum merilisnya. 

2. Identifikasi sumber dengan jelas. 

Publik berhak atas informasi sebanyak mungkin untuk menilai keandalan dan motivasi sumber. Pertimbangkan motif sumber sebelum menjanjikan anonimitas. Jelaskan mengapa anonimitas diberikan. 

3. Hindari stereotip. 

Jurnalis harus memeriksa cara nilai dan pengalaman mereka dapat membentuk liputan mereka. Jangan pernah dengan sengaja mendistorsi fakta atau konteks, termasuk informasi visual. 

4. Minimalkan Bahaya

Jurnalisme etis memperlakukan sumber, subjek, kolega, dan anggota masyarakat sebagai manusia yang patut dihormati.

Wartawan harus seimbangkan kebutuhan publik akan informasi terhadap potensi bahaya atau ketidaknyamanan. Mengejar berita bukanlah izin untuk arogansi atau campur tangan yang tidak semestinya. 

5. Melayani publik.

Kewajiban tertinggi dan utama jurnalisme etis adalah melayani publik.

Wartawan harus mengindari konflik kepentingan, nyata atau dirasakan. Mengungkapkan konflik yang tidak dapat dihindari. 

6. Tolak pemberian hadiah

Wartawan harus menolak hadiah, bantuan, biaya, perjalanan gratis, dan perlakuan khusus, dan menghindari kegiatan politik dan kegiatan luar lainnya yang dapat membahayakan integritas atau ketidakberpihakan, atau dapat merusak kredibilitas wartawan. 

Berhati-hatilah terhadap sumber yang menawarkan informasi untuk bantuan atau uang. Tolak perlakuan yang disukai untuk pengiklan, donor atau kepentingan khusus lainnya, dan tahan tekanan internal dan eksternal untuk mempengaruhi liputan. 

7. Bedakan berita dari iklan

Bedakan berita dari iklan dan hindari hibrida yang mengaburkan batas di antara keduanya. Beri label dengan jelas pada konten bersponsor. 


Jurnalis yang mendukung standar tersebut bekerja di ruang redaksi yang menyediakan liputan tepercaya.

Para reporter dan editor di ruang redaksi media profesional berusaha untuk bekerja dan "hidup" dengan kode etik itu. Media-media yang mematuhi kode etik adalah sumber informasi tepercaya.

Ya, wartawan membuat kesalahan. Tapi mereka menjelaskan dan memperbaikinya. Ya, pembaca terkadang tidak setuju dengan apa yang merela pilih untuk dilaporkan atau bagaimana mereka memilih untuk melaporkannya. 

Jurnalisme bukanlah ilmu. Editor dan reporter sering tidak setuju tentang pentingnya sebuah berita atau sudut pandang apa yang harus diambil oleh liputan.

Tapi wartawan hendaknya tidak setuju tentang fakta, tidak peduli seberapa nyaman atau tidak nyaman bagi mereka yang berkuasa.

Tanyakan kepada banyak orang akhir-akhir ini, dari mana berita berasal, dan kemungkinan besar mereka akan menjawab dari Facebook atau Twitter.

Itu salah. Berita tidak datang dari media sosial seperti halnya makanan yang datang dari toko kelontong… tidak termasuk petani.

Pelaporan yang baik membutuhkan waktu. Prosesnya tidak efisien dan mahal. Twitter dan Facebook tidak mempekerjakan satu jurnalis pun! 

SPJ mencantumkan lima alasan mengapa jurnalistik atau wartawan membutuhkan etika:

1. Informasi

Jurnalisme etis menghasilkan informasi berkualitas yang dibutuhkan orang untuk menjalani kehidupan mereka.

2. Akuntabilitas

Jurnalisme etis mengungkap dan melaporkan kapan mereka yang memegang kekuasaan menyalahgunakan jabatan dan status mereka.

3. Pemberdayaan

Informasi sering disamakan dengan kekuasaan, dan publik yang terinformasi adalah publik yang kuat.

4. Kenyamanan

Jurnalisme etis dapat memberikan kenyamanan dan pengetahuan kepada masyarakat yang mencari informasi tentang peristiwa tragis.

5. Demokrasi

Jurnalisme etis adalah landasan warga negara yang terinformasi yang dapat menggunakan suara mereka untuk mengubah kehidupan.

Demikianlah, etika jurnalisme di era internet atau media sosial kini lebih penting dari sebelumnya. Wartawan/media memverifikasi informasi yang beredar di media sosial, jika kode etik dipatuhi.

Wartawan Indonesia menjaga profesionalitas, reputasi, dan kredibilitasnya dengan mematuhi kode etik yang berlaku:
  1. Kode Etik Wartawan Indonesia (KEWI)
  2. Pedoman Pemberitaan Media Siber (PPMS)
Wartawan media penyiaran (radio dan televisi) juga terikat dengan Pedoman Pelaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Kepatuhan pada pedoman ini pula yang membedakan mereka dengan vlogger, podcaster, atau Youtuber dari kalangan warganet atau content creator. 

Sumber: Media Update, The News Leader


Thanks for reading Etika Jurnalisme Kini Lebih Penting dari Sebelumnya | Tags: | Follow Romeltea on Twitter

Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »

Related Posts

Your Comments

0 komentar on Etika Jurnalisme Kini Lebih Penting dari Sebelumnya

Post a Comment

Komentar SPAM dan LINK AKTIF tidak akan muncul.